0

Islam hanya mengajarkan bentuk-bentuk curahan kasih
sayang dan cinta itu setelah melalui satu proses sakral
yakni pernikahan.
Adapun beberapa tahapan yang perlu dilewati, antara
lain :
1. Ta’aruf (Perkenlan) 3. Nikah
2. Khitbah (lamaran) 4. Walimah
Ta’aruf (perkenalan).
Yang penting dari ta’aruf adalah saling mengenal antara
kedua belah pihak, saling memberitahu keadaan keluarga
masing-masing, saling memberi tahu harapan dan
prinsip hidup, saling mengungkapkan apa yang disukai
dan tidak disukai, dan seterusnya. Kaidah-kaidah yang
perlu dijaga dalam proses ini intinya adalah saling
menghormati apa yang disampaikan lawan bicara,
mengikuti aturan pergaulan Islami, tak berkhalwat, tak
mengumbar pandangan.
Bila belum berani bertatap muka langsung (yang
tentunya ditemani oleh mahramnya ^-^), anda bisa
memilih alternatif berikut..
Yaitu dengan mencari tahu kepribadian calon pasangan
dengan meminta teman kita ( pria-wanita ) untuk
mengorek informasi dari orang-orang terdekatnya.
Informasi apa yang kira-kira perlu kita ketahui ? Coba
Titipkan pertanyaan ringan berikut..
Agama: “Adakah amalan sunnah yang sudah jadi
kebiasaan?” karena mereka yang mampu merawat amalan
sunnah, sudah hampir dipastikan amalan wajibnya tidak
terbengkalai.
Akhlak: “Bagaimana perhatiannya dengan keluarganya?”
karena dia yang sangat perhatian dengan keluarga sudah
barang tentu besoknya keluarga akan jadi perhatian
utama. “Apakah emosinya stabil?” Karena kalau
emotionalnya stable, bagus dia sudah mulai masuk area
kedewasaan yang matang. Pancing orangnya dengan
membeberkan atau menanyakan salah satu kejelekan
orang . Kalo tidak berminat berarti aman.
Pemikiran: Menyatukan visi itu sangat penting sehingga
tau mau dibawa kemana keluarga ini? Atau pendidikan
semacam apa yang diberikan kepada anak. Visi bisa
ditanyakan langsung, “apa visimu wahai calon teman
setiaku?”. Untuk ngecek apakah ngegombal atau gak,
cek melalui teman dengan pertanyaan, “Bahasan apa
yang sering diperbincangkan? Agama? Pendidikan?
Hiburan?”. Kalo pengen yang sama-sama berjuang dalam
berdakwah pilih yang mengutamakan bahasan agama.
Tambahan, kalo pengen yang cerdas selidiki sekritis apa
dia menilai sesuatu.
Sosok calon: Foto tidak menjamin sama dengan kualitas
fisiknya. Baiknya ketemu langsung atau kalo cari aman
(dari penyakit hati), lihat dari kejauhan bagaimana
sebenarnya fisiknya. Kalo anaknya berjilbab gak mungkin
donk minta dibuka gitu, tanya ke temen deketnya apakah
ada yang minus? misal ada yang tidak normal atau
punya penyakit kulit?.
Pola pengelolaan keuangan: “Bagaimana model
belanjanya? Membeli tanpa pikir panjang? atau Sering
ngutang?”
Dalam tahap ini anda dan dia bisa saling mengukur diri
apakah cocok satu sama lain atau tidak. Masing-masing
pihak masih harus sama-sama membuka options/
kemungkinan batal atau jadi. Maka umumnya dilakukan
tanpa terlebih dahulu melibatkan orangtua agar tidak
menimbulkan kesan ‘harga jadi’ dan tidak ada lagi
proses tawar menawar, sehingga jika pun gagal/batal
tidak ada konsekuensi apa-apa. Karena jika sudah
sampai menemui orangtua berarti secara samar maupun
terang-terangan seorang pria sudah menunjukkan niat
untuk memperistri si wanita. Yang perlu di ingat,
seringkali pasangan-pasangan itu terjebak dalam
aktifitas pacaran yang terbungkus sampul ta’aruf.
Apa namanya bukan pacaran kalau ada rutinitas
kunjungan yang melegitimasi silaturahmi dengan embel-
embel ‘ingin lebih kenal’.
Khitbah (lamaran)
Khitbah adalah jalan pembuka menuju pernikahan. Boleh
dibilang, khitbah merupakan jenjang yang memisahkan
antara pemberitahuan persetujuan seorang gadis yang
sedang dipinang oleh seorang pemuda dan
pernikahannya. Keduanya sepakat untuk menikah. Tapi,
ini hanya sekadar janji untuk menikah yang tidak
mengandung akad nikah.
Batasan Khitbah :
1. Khitbah biasanya, peminangan seorang pria kepada
wanita (tentunya kepada wali wanita tersebut). seorang
wanita juga bisa meminta kepada pria untuk dinikiahi.
Rasulullah bersabda yang di riwayatkan oleh imam
bukhari dan muslim. Yang artinya: telah datang seorang
prempuan kepada Rasulullah yang mana prempuan
tersevut meminta kepada nabi untuk
menikahinya,sehingga nabi berdiri di sampingnya lama
sekali, ketika itu salah satu dari sahabat melihatnya dan
beranggapan bahwa beliau tidak berkehendak untuk
menikahinya, maka sahabat tersebut berkata: nikahkan
saya ya Rasullah jikalau kamu tidak ada hajah
(berkehendak) untuk menginginkannya, maka berkata
Rasulullah : apakah kamu punya punya sesuatu? dia
berkata tidak!, dan beliau berkata lagi buatlah cicin
walaupun dari besi, kemudian sahabat tersebut
mencarinya dan tidak mendapatkan nya, kemudian beliau
bersabda : apakah kamu hafal beberapa surat dari
alquran ?Dia menjawab iya!surat ini dan ini,maka beliau
bersabda : saya nikahkan kamu dengan nya dengan apa
yang kamu hafal dari alquran.”
Dari kontek hadist di atas sudah jelas sekali bahwa di
perbolehkan bagi perempuan untuk meminta kepada
seorang lelaki soleh yang bertaqwa dan berpegang
teguh terhadap Dinnya untuk meminangnya, jika lelaki
tersebut ingin maka nikahi dan jikalau tidak maka
tolaklah, akan tetapi tidak di anjurkan untuk menolaknya
secara terang-terangan cukup diam dengan memberikan
isyarat, untuk menjaga kehormatan hati prempuan
tersebut .
2. Khitbah bukan menghalalkan segalanya Khitbah
(tunangan) bukanlah syarat sahnya nikah ,akad nikah
tanpa khitbah tetap sah, akan tetapi khitbah suatu
wasilah untuk menuju ke jenjang pernikahan yang di
perbolehkan .
Mari kita simak syafi’iyah: khitbah adalah suatu yang di
sunatkan dan di anjurkan ,dengan dalil fi’iliyah sebagai
mana Rasulullah meminang aisyah binti abu bakar ra.
Dalam masa penantian sebelum resmi menikah, seorang
lelaki dan perempuan wajib menjaga kehormatan dirinya.
Meskipun sudah melakukan khitbah atau pertunangan,
tetap saja keduanya belum dihalalkan untuk melakukan
sesuatu yang lazim dipraktekkan pasangan suami isteri.
Dari sini, tidak dibenarkan bagi kedua tunangan untuk
melanggar batas-batas syariat, seperti percampuran dan
kencan. Ketentuan umum terkait aurat, ikhtilath/khalwat
tetap menjadi larangan. Untuk menghindari hal-hal
sepertiini, solusi terbaik adalah tindakan preventif dari
hal-hal yang diharamkan Allah swt, termasuk menjaga
jarak dengan calon isteri atau suaminya sedini mungkin.
Sebab, hubungan khatib (pelamar) dgn makhtubahnya
(perempuan yang dilamar) adalah hubungan yang paling
rawan dan berbahaya.
3. Jangan berlama dalam masa khitbah Meski tidak ada
nash khusus tentang batas waktu masa khitbah, tapi
dianjurkan menikah dan khitbah tidak terlalu lama. Untuk
menghindarkan fitnah dan berbagai potensi terjadinya
kerusakan. Sesudah khitbah (permohonan menikah)
disetujui, sebaiknya keluarga kedua pihak
bermusyawarah mengenai kapan dan bagaimana walimah
dilangsungkan.
“Dan sesuatu yang mengantarkan kepada keharaman,
haram pula hukumnya”
4. Haram meminang pinangan saudaranya diriwayatkan
oleh al-Bukhari bahwa Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma
menuturkan: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
melarang sebagian kalian membeli apa yang dibeli
saudaranya, dan tidak boleh pula seseorang meminang
atas pinangan saudaranya hingga peminang sebelumnya
meninggalkannya atau peminang mengizinkan
kepadanya”
Boleh hukumnya mengkhitbah lewat SMS, karena ini
termasuk mengkhitbah lewat tulisan (kitabah) yang
secara syar’i sama dengan khitbah lewat ucapan. Kaidah
fikih menyatakan : al-kitabah ka al-khithab (tulisan itu
kedudukannya sama dengan ucapan/lisan). (Wahbah Az-
Zuhaili, Ushul Al-Fiqh Al-Islami, 2/860). Kaidah itu
berarti bahwa suatu pernyataan, akad, perjanjian, dan
semisalnya, yang berbentuk tulisan (kitabah) kekuatan
hukumnya sama dengan apa yang diucapkan dengan
lisan (khithab).
Namun setelah saya coba konsultasi dengan mas’ul, bila
SMS ini juga sudah disetujui oleh sang akhwat(wanita),
maka haruslah setelah itu sang ikhwan(pria) berkunjung
bersama walinya ke orang tua akhwat tersebut. agar
khitbahnya menjadi sah.
Yang perlu disadari, khitbah mirip jual beli, dalam masa
tawar menawar bisa jadi, bisa juga batal. Pembatalannya
harus tetap sopan menurut aturan Islami, tidak menyakiti
hati dengan kata-kata yang kasar, tidak membicarakan
aib yang sempat diketahui dalam khitbah kepada orang
lain. Namun sebagaimana jual beli harus ada prinsip
kedua belah pihak ridho. Khitbah baru bisa berlanjut ke
pernikahan jika kedua pihak ridho, jika salah satu
membatalkan proses tawar menawar maka pernikahan tak
akan jadi. Kalaupun dibatalkan (meski mungkin
menyakitkan), harus ada alasan yang kuat untuk salah
satu pihak membatalkan rencana nikah yang sudah
matang. Sebab Islam melarang ummatnya saling
menyakiti tanpa alasan. Jadi jika ada yang ragu (dengan
alasan yang benar) sebelum menikah, sebaiknya
membatalkan sebelum terlanjur.
Nikah Tidak ada satu nash pun baik dalam Al-Qur`an
maupun As-Sunnah yang menetapkan batasan waktu
antara khitbah dan nikah. Baik tempo minimal maupun
maksimal. (Yahya Abdurrahman, Risalah Khitbah, hal.
77). Dengan demikian, boleh saja jarak waktu antara
khitbah dan nikah hanya beberapa saat, katakanlah
beberapa menit saja. Boleh pula jarak waktunya sampai
hitungan bulan atau tahun. Semuanya dibolehkan,
selama jarak waktu tersebut disepakati pihak laki-laki
dan perempuan. Satu hari bisa jadi sudah deadline bagi
pria-wanita yang sudah sedemikian menggebunya
hingga khawatir terjerumus kepada dosa zina. Namun
jika bisa merasa ‘aman’ dengan menunda beberapa
waktu tidak masalah.
Walimah Wajib mengadakan walimah setelah dhukul
(bercampur), berdasarkan perintah Nabi saw. kepada
Abdurrahman bin ’Auf r.a. agar menyelenggarakan
walimah sebagaimana telah dijelaskan pada hadits
berikut. Dari Buraidah bin Hushaib bertutur, ”Tatkala Ali
melamar Fathimah r.anha, berkata, bahwa Rasulullah saw
bersabda, ”Sesungguhnya pada perkawinan harus
diadakan walimah.” (Shahih Jami’us Shaghir no:2419 dan
al-Fathur Rabbani XVI:205 no:175).
Beberapa hal yang patut diperhatikan dalam
penyelenggaraan walimah :
a. HENDAKNYA walimah dilaksanakan dalam tiga hari,
setelah dhukhul (bercampur), karena perbuatan inilah
yang dinukil dari Nabi saw. Anas r.a. bertutur, “Nabi
saw. menikahi Syafiyah dan menjadikan pemerdekaannya
sebagai maharnya dan mengadakan walimah selama tiga
hari.” (Sanadnya Shahih: Adabuz Zifaf hal.74,
diriwayatkan Abu Ya’la dengan sanad hasan
sebagaimana yang disebutkan dalam Fathul Bari, IX:199
dan yang sema’na diriwayatkan Imam Bukhari
sebagaimana yang dijelaskan dalam Fathul Bari IX:224
no:1559. Demikian menurut Syaikh al-Albani.
b. Mengundang orang-orang yang shalih baik fakir
maupun kaya, karena Rasulullah saw. bersabda,
“Janganlah kamu bersahabat kecuali dengan orang
mukmin. Dan Jangan (pula) menyantap makananmu
kecuali orang yang bertakwa.” (Hasan: Shahihul Jami’us
Shaghir no:7341, ‘Aunul Ma’bud XIII:178 no:4811 dan
IV:27 no:2506).
c. Hendaknya mengadakan walimah, dengan memotong
seekor kambing atau lebih, bila mampu. Hal ini
berdasarkan sabda Nabi saw. yang ditujukan kepada
Abdurrahman bin ’Auf r.a., ”Adakanlah walimah meski
hanya dengan menyembelih seekor
kambing.” (Muttafaqun ’alaih). Dari Anas r.a. berkata,
”Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. mengadakan
walimah untuk pernikahan dengan seorang wanita
sebagaimana yang beliau adakan ketika kawin dengan
Zainab dimana beliau menyembelih seekor
kambing.” (Muttafaqin ’alaih: Muslim II:1049 no:90 dan
1428, dan lafadz ini baginya, Fathul Bari IX:237 no:5171,
dan Ibnu Majah I:615 no:1908).
Boleh menyelenggarakan acara walimah dengan
hidangan yang mudah didapatkan walaupun tanpa
daging berdasarkan hadits Anas. Dari Anas r.a. berkata,
”Nabi saw. pernah menginap tiga hari di suatu tempat
antara Khabir dan Madinah untuk menyelenggarakan
perkawinan dengan Shafiyah binti Huyay. Kemudian aku
mengundang kaum muslimin untuk menghadiri walimah
Beliau. Dan tidak didapatkan dalam walimah tersebut ada
roti ada daging, lalu diatasnya diletakkanlah korma
kering dan minyak samin. Sehingga hidangan itu
menjadi walimah Beliau.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari
IX:224 no:1559 dan lafadz ini baginya, Imam Bukhari,
Muslim II:1043 no:1365 dan Nasa’i VI:134).
Tidak boleh mengkhususkan undangan hanya untuk
orang-orang kaya, tanpa orang-orang miskin, Nabi saw
bersabda, ”Seburuk-buruk hidangan ialah hidangan
walimah. Dimana orang yang berhak mendatanginya
(orang yang berhak mendatanginya: orang miskin)
dilarang mengambilnya, sedangkan orang yang enggan
mendatanginya (Orang yang enggan mendatanginya:
orang kaya (peng..)) diundang (agar memakannya). Dan
barangsiapa yang tidak memenuhi undangan, maka
sungguh ia bermaksiat kepada Allah dan Rasul-
Nya.” (Muttafaqun ’alaih: Muslim II:1055 no:110/1432,
dan diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim juga
dari Abu Hurairah secara mauquf padanya bisa dilihat
dalam Fathul Bari IX:244 no:5177).

Dikirim pada 13 April 2015 di Hikmah


Oleh: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tata
cara pernikahan berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah
yang shahih sesuai dengan pemahaman para Salafush
Shalih, di antaranya adalah:
1. Khitbah (Peminangan)
Seorang laki-laki muslim yang akan menikahi seorang
muslimah, hendaklah ia meminang terlebih dahulu
karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang
lain. Dalam hal ini Islam melarang seorang laki-laki
muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh
orang lain. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang
membeli barang yang sedang ditawar (untuk dibeli) oleh
saudaranya, dan melarang seseorang meminang wanita
yang telah dipinang sampai orang yang meminangnya
itu meninggalkannya atau mengizinkannya.” [1]
Disunnahkan melihat wajah wanita yang akan dipinang
dan boleh melihat apa-apa yang dapat mendorongnya
untuk menikahi wanita itu.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila seseorang di antara kalian ingin meminang
seorang wanita, jika ia bisa melihat apa-apa yang dapat
mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah!” [2]
Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallaahu ‘anhu pernah
meminang seorang wanita, maka Nabi shallallaahu
‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:
“Lihatlah wanita tersebut, sebab hal itu lebih patut untuk
melanggengkan (cinta kasih) antara kalian berdua.” [3]
Imam at-Tirmidzi rahimahullaah berkata, “Sebagian ahli
ilmu berpendapat dengan hadits ini bahwa menurut
mereka tidak mengapa melihat wanita yang dipinang
selagi tidak melihat apa yang diharamkan darinya.”
Tentang melihat wanita yang dipinang, telah terjadi
ikhtilaf di kalangan para ulama, ikhtilafnya berkaitan
tentang bagian mana saja yang boleh dilihat. Ada yang
berpendapat boleh melihat selain muka dan kedua
telapak tangan, yaitu melihat rambut, betis dan lainnya,
berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
“Melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya.”
Akan tetapi yang disepakati oleh para ulama adalah
melihat muka dan kedua tangannya. Wallaahu a’lam. [4]
Ketika Laki-Laki Shalih Datang Untuk Meminang
Apabila seorang laki-laki yang shalih dianjurkan untuk
mencari wanita muslimah ideal -sebagaimana yang telah
kami sebutkan- maka demikian pula dengan wali kaum
wanita. Wali wanita pun berkewajiban mencari laki-laki
shalih yang akan dinikahkan dengan anaknya. Dari Abu
Hatim al-Muzani radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata,
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai
agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan
anak kalian). Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di bumi
dan kerusakan yang besar.’” [5]
Boleh juga seorang wali menawarkan puteri atau saudara
perempuannya kepada orang-orang yang shalih.
Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, ia berkata,
“Bahwasanya tatkala Hafshah binti ‘Umar ditinggal mati
oleh suaminya yang bernama Khunais bin Hudzafah as-
Sahmi, ia adalah salah seorang Shahabat Nabi yang
meninggal di Madinah. ‘Umar bin al-Khaththab berkata,
‘Aku mendatangi ‘Utsman bin ‘Affan untuk menawarkan
Hafshah, maka ia berkata, ‘Akan aku pertimbangkan
dahulu.’ Setelah beberapa hari kemudian ‘Utsman
mendatangiku dan berkata, ‘Aku telah memutuskan
untuk tidak menikah saat ini.’’ ‘Umar melanjutkan,
‘Kemudian aku menemui Abu Bakar ash-Shiddiq dan
berkata, ‘Jika engkau mau, aku akan nikahkan Hafshah
binti ‘Umar denganmu.’ Akan tetapi Abu Bakar diam dan
tidak berkomentar apa pun. Saat itu aku lebih kecewa
terhadap Abu Bakar daripada kepada ‘Utsman.
Maka berlalulah beberapa hari hingga Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam meminangnya. Maka, aku
nikahkan puteriku dengan Rasulullah. Kemudian Abu
Bakar menemuiku dan berkata, ‘Apakah engkau marah
kepadaku tatkala engkau menawarkan Hafshah, akan
tetapi aku tidak berkomentar apa pun?’ ‘Umar men-
jawab, ‘Ya.’ Abu Bakar berkata, ‘Sesungguhnya tidak ada
sesuatu yang menghalangiku untuk menerima
tawaranmu, kecuali aku mengetahui bahwa Rasulullah
telah menyebut-nyebutnya (Hafshah). Aku tidak ingin
menyebarkan rahasia Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa
sallam. Jika beliau meninggalkannya, niscaya aku akan
menerima tawaranmu.’” [6]
Shalat Istikharah
Apabila seorang laki-laki telah nazhar (melihat) wanita
yang dipinang serta wanita pun sudah melihat laki-laki
yang meminangnya dan tekad telah bulat untuk menikah,
maka hendaklah masing-masing dari keduanya untuk
melakukan shalat istikharah dan berdo’a seusai shalat.
Yaitu memohon kepada Allah agar memberi taufiq dan
kecocokan, serta memohon kepada-Nya agar diberikan
pilihan yang baik baginya. [7] Hal ini berdasarkan hadits
dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata,
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari
kami shalat Istikharah untuk memutuskan segala sesuatu
sebagaimana mengajari surat Al-Qur’an.” Beliau
shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila
seseorang di antara kalian mempunyai rencana untuk
mengerjakan sesuatu, hendaknya melakukan shalat
sunnah (Istikharah) dua raka’at, kemudian membaca
do’a:
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat
kepada-Mu dengan ilmu-Mu dan aku memohon
kekuatan kepada-Mu (untuk mengatasi persoalanku)
dengan ke-Mahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu
sesuatu dari anugerah-Mu yang Mahaagung, sungguh
Engkau Mahakuasa sedang aku tidak kuasa, Engkau
Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui dan
Engkaulah yang Maha Mengetahui yang ghaib. Ya Allah,
apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (orang
yang mempunyai hajat hendaknya menyebut
persoalannya) lebih baik dalam agamaku,
penghidupanku, dan akibatnya terhadap diriku (atau
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘..di dunia
atau akhirat) takdirkan (tetapkan)lah untukku,
mudahkanlah jalannya, kemudian berilah berkah atasnya.
Akan tetapi, apabila Engkau mengetahui bahwa
persoalan ini membawa keburukan bagiku dalam
agamaku, penghidupanku, dan akibatnya kepada diriku
(atau Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘…di
dunia atau akhirat’) maka singkirkanlah persoalan
tersebut, dan jauhkanlah aku darinya, dan takdirkan
(tetapkan)lah kebaikan untukku di mana saja kebaikan
itu berada, kemudian berikanlah keridhaan-Mu
kepadaku.’” [8]
Dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata,
“Tatkala masa ‘iddah Zainab binti Jahsy sudah selesai,
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada
Zaid, ‘Sampaikanlah kepadanya bahwa aku akan
meminangnya.’ Zaid berkata, ‘Lalu aku pergi mendatangi
Zainab lalu aku berkata, ‘Wahai Zainab, bergembiralah
karena Rasulullah mengutusku bahwa beliau akan
meminangmu.’’ Zainab berkata, ‘Aku tidak akan
melakukan sesuatu hingga aku meminta pilihan yang
baik kepada Allah.’ Lalu Zainab pergi ke masjidnya. [9]
Lalu turunlah ayat Al-Qur’an [10] dan Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam datang dan langsung
masuk menemuinya.” [11]
Imam an-Nasa’i rahimahullaah memberikan bab terhadap
hadits ini dengan judul Shalaatul Marhidza Khuthibat
wastikhaaratuha Rabbaha (Seorang Wanita Shalat
Istikharah ketika Dipinang).”
Fawaaid (Faedah-Faedah) Yang Berkaitan Dengan
Istikharah:
1. Shalat Istikharah hukumnya sunnah.
2. Do’a Istikharah dapat dilakukan setelah shalat
Tahiyyatul Masjid, shalat sunnah Rawatib, shalat Dhuha,
atau shalat malam.
3. Shalat Istikharah dilakukan untuk meminta
ditetapkannya pilihan kepada calon yang baik, bukan
untuk memutuskan jadi atau tidaknya menikah. Karena,
asal dari pernikahan adalah dianjurkan.
4. Hendaknya ikhlas dan ittiba’ dalam berdo’a Istikharah.
5. Tidak ada hadits yang shahih jika sudah shalat
Istikharah akan ada mimpi, dan lainnya. [12]
[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga
Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit
Putaka A-Taqwa Bogor – Jawa Barat, Cet Ke II Dzul
Qa’dah 1427H/Desember 2006]
__________
Foote Note
[1]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no.
5142) dan Muslim (no. 1412), dari Shahabat Ibnu ‘Umar
radhiyallaahu ‘anhuma. Lafazh ini milik al-Bukhari.
[2]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (III/334,
360), Abu Dawud (no. 2082) dan al-Hakim (II/165), dari
Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma.
[3]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no.
1087), an-Nasa-i (VI/69-70), ad-Darimi (II/134) dan
lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani
rahimahullaah dalam Shahiih Sunan Ibni Majah (no.
1511).
[4]. Lihat pembahasan masalah ini dalam Syarhus
Sunnah (IX/17) oleh Imam al-Baghawi, Syarh Muslim
(IX/210) oleh Imam an-Nawawi, Silsilah al-Ahaadiits
ash-Shahiihah (I/97-208, no. 95-98) oleh Syaikh al-
Albani, al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah
(V/34-36) oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah
dan Fiqhun Nazhar (hal. 82-89).
[5]. Hadits hasan lighairihi: Diriwayatkan oleh at-
Tirmidzi (no. 1085). Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-
Shahiihah (no. 1022).
[6]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no.
5122) dan an-Nasa-i (VI/77-78). Lihat Shahiih Sunan an-
Nasa-i (no. 3047).
[7]. Al-Insyiraah fii Aadabin Nikaah (hal. 22-23) oleh
Syaikh Abu Ishaq al-Khuwaini, Jaami’ Ahkaamin
Nisaa(III/216) oleh Musthafa al-‘Adawi dan Adabul
Khithbah waz Zifaaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal.
21-22) oleh ‘Amr ‘Abdul Mun’im Salim.
[8]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no.
1162), Abu Dawud (no. 1538), at-Tirmidzi (no. 480), an-
Nasa-i (VI/80), Ibnu Majah (no. 1383), Ahmad (III/334),
al-Baihaqi (III/52) dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah
radhiyallaahu ‘anhuma.
[9]. Yaitu mushalla tempat shalat di rumahnya.
[10]. Yaitu surat al-Ahzaab ayat 37. Allah telah
menikahkan Nabi shallal-laahu ‘alaihi wa sallam dengan
Zainab binti Jahsyi melalui ayat ini.
[11]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1428
(89)), an-Nasa-i (VI/79), dari Shahabat Anas
radhiyallaahu ‘anhu.
[12]. Jaami’ Ahkaamin Nisaa’ (III/218-222).

Dikirim pada 13 April 2015 di Hikmah
Profile

Aku hanyalah orang biasa,. sederhana dan apa adanya,. More About me

Page



    Flag Counter
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 4.234.982 kali


connect with ABATASA