0


Diambil dari sebuah pengalaman bukan prediksi..
Setelah ikhtiar maksimal, berdo`a dan shalat maka tanda itu Allah tunjukan:
1. Berupa keyakinan yang besar untuk menuju pernikahan tidak bisa tergoyahkan oleh apapun sekalipun banyak ujian walau tanpa cinta dan hanya ta`aruf sesaat..
2. Merasa nyaman dan cocok dengannya, tidak ada ganjalan berupa rasa tidak cocok dalam hati, sehingga tiada keraguan untuk menikah..

3. Bisa menjadi diri sendiri tanpa adanya kepura-puraan atau tanpa sesuatu yang ditutupi..

4. Ikhlas menerima apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya..

5. Allah mudahkan segala urusannya walau harus ada ujian di dalamnya..

6. Niat yang lurus dari keduanya hanya mengharap ridho Allah..

7. Ada restu dan do`a dari kedua belah orang tua..

8. Sebesar apapun ujian jika berjodoh maka pasti akan bertemu juga dipelaminan....­­insya Allah ..

Semoga Bermanfaat..
#facebook_sebelum_engkau_halal_bagiku

Dikirim pada 17 Mei 2013 di Cinta


Bismillahirrahmanirrahim...
Wanita mana yang tidak menginginkan pendamping hidup yang sholeh?
Lelaki mana yang tidak menginginkan pendamping hidup yang sholehah?

Inilah yang selalu diharapkan lelaki dan wanita yang masih belum menikah.
Mereka mengharapkan kebahagiaan yang sangat didambakannya ketika dirinya telah siap untuk mengakhiri masa lajangnya.

Kebahagiaan yang hendak diraihnya saat Ijab Qabul tersyi`ar dari suara sang pujaan hati hingga mengarungi bahtera kehidupan baru yang diridhai Allah.Yakni rumah tangga yang sakinah, mawaddah warohmah.

Alangkah indah dan bahagianya
Pernikahan yang dilandasi karena agama.
Bukan karena tahta yang melimpah ruah,
Bukan karena kecantikan atau ketampanan yang akan sirna dimakan usia.
Juga bukan karena keturunan yang berstatuskan kaya raya.

Rumah tangga yang dibangun karena Iman dan Takwa,
Menjadi sepasang suami isteri yang taat beragama.
Yang dicarinya adalah kebahagiaan dunia dan akhirat.

Baginya kebahagiaan adalah apa yang ia dapat dari pasangannya bukan karena cinta semata,
Bukan karena harta dan tahta,
Bukan pula karena istana yang megah dan mewah.
Tapi kebahagiaan baginya adalah karena keimanan dan ketaqwaan yang senantiasa menghiasi dirinya.
Itulah kebahagiaan dalam pernikahan yang dijadikan sebagai bentuk ibadah,

Laa takhaf wa aa tahzan.
Bersabarlah menunggu kepastian ketetapan-Nya.
Sesungguhnya Allah Maha Tahu apa yang kita mau.

Dikirim pada 22 April 2013 di Cinta


Bismillahirrahmanirrahim ,,,
Sebaik-baiknya rancangan..
Tiada yang dapat menandingi kesempurnaan rancangan_Nya.
Sebaik-baiknya pilihan..
Tiada yang dapat menandingi kesempurnaan pilihan_Nya.
Ketika dua hati telah digariskan untuk bersatu.
Sejauh apapun jarak tempat tinggal mereka.
Sesulit apapun rintangan yang menghalangi mereka.
Sebesar apapun perbedaan diantara mereka.
Sekuat apapun usaha mereka untuk menghindarinya.
Pada akhirnya mereka akan bersatu juga.
Selalu ada penyebab untuk menjadikan mereka bertemu.
Selalu ada suatu kejadian yang akan membuat mereka saling mendekat.
Hingga pada akhirnya mereka dpersatukan dalam sebuah ikatan suci.
Akan tetapi sebaliknya..
Ketika dua hati telah ditakdirkan untuk tidak bersatu.
Sedekat apapun jarak tempat tinggal mereka.
Semudah apapun langkah mereka untuk bisa bersatu.
Sekuat apapun perasaan yang telah ada dalam hati mereka berdua.
Sesering apapun hubungan yang terjalin diantara mereka sebelumnya.
Pada akhirnya mereka akan terpisah juga.
Selalu ada penyebab yang membuat mereka saling menjauh.
Selalu ada kejadian yang membuat mereka saling tidak menyukai.
Selalu ada sesuatu yang membuat mereka menyadari bahwa dia bukan pilihan yang terbaik.
Itulah rahasia jodoh yang tak akan pernah lepas dari campur tangan_Nya.
Percayalah bahwa rencana_Nya adalah yang terbaik bagi kita.
Rancangan_Nya adalah sebaik-baiknya rancangan untuk kita.
Ketika kita tidak mendapatkan suatu hal yang kita inginkan.
Bukan berarti bahwa kita tidak pantas untuk memilikinya.
Akan tetapi justru sebaliknya.
Kiita pantas untuk mendapatkan seseorang yang lebih baik menurut pilihan_Nya.
sumber: facebook sebelum halal bagiku

Dikirim pada 03 Maret 2013 di Cinta


Setelah sekian lama menyimak kisah perjalanan B.J. Habibie dan Ainun, saya berkesimpulan bahwa terdapat 7 perekat keduanya sehingga cinta mereka benar-benar fenomenal. Ketujuh perekat tersebut adalah:
1. Masa perkenalan dan masa pacaran Habibie-Ainun hanya berlangsung 3 bulan. Bagi Habibie, hidup itu memang perlu direncanakan dengan matang. Urusan berumah tangga juga demikian. Semakin cepat melabuhkan cinta dalam bahatera pernikahan, semakin banyak waktu yang tidak terbuang dengan percuma. Masa berpacaran hanyalah penuh kesia-siaan. Dan Habibie-Ainun menyadari tentang hal tersebut. Oleh karena itu, begitu hati keduanya sudah saling terpagut, mereka tak menunda waktu lagi untuk selanjutnya melangsungkan pernikahan.

2. Setelah selesai melangsungkan pernikahan, Habibie-Ainun berangkat ke Jerman. Habibie harus menyelesaikan studi doktornya di negara maju tersebut. Jika menuruti kata hati, Ainun mungkin bisa bertahan di Jakarta. Waktu itu karier Ainun memang sedang melejit. Sebagai seorang dokter di rumah sakit kenamaan RS Ciptomangunkusumo, tentu masa depan Ainun sangat menjanjikan. Namun, karier gemilang itu ditinggalkannya demi rasa cintanya pada sang suami. Ke Jerman, bahkan ke mana pun sang suami bertugas, Ainun senantiasa mendampinginya dengan penuh rasa setia.

3. Syahdan, ketika Habibie-Ainun pertama kali menginjakkan kaki di Jerman, gaji Habibie hanya DM 800 atau setara dengan Rp 180.000. Dua per tiga dari pendapatan per bulan tersebut digunakan untuk biaya sewa pavilliun kecil di Kota Aachen. Ainun harus berhemat dengan sisa uang yang tinggal DM 300 tersebut. Ya, dengan sisa uang tersebut, di sebuah kota dengan biaya hidup sangat tinggi, manalah mungkin bisa melanjutkan kelangsungan hidup jika tidak pandai-pandai berhemat. Dalam bentuk perbuatan seperti itulah Habibie-Ainun mensyukuri nikmat yang telah Allah turunkan kepada keduanya.

4. Ketika karier suami melejit, Ainun berusaha mendukungnya dengan penuh perhatian. Demi keberhasilan rumah tangga, mereka pun kemudian berbagi tugas. Sang suami mengkonsentrasikan diri dalam studi doktornya sambil bekerja mencari penghasilan tambahan. Apa pun yang dirasakan halal dikerjakan oleh Habibie demi memenuhi kebutuhan nafkah keluarganya. Lebih-lebih ketika anak pertama mereka sudah lahir. Sementara Ainun untuk sementara melupakan karier dokternya dan berkonsentrasi pada manajemen keluarganya di rumah.

5. Ainun berusaha agar tidak terlalu banyak bergantung kepada orang lain. Semua hal yang bisa dikerjakan sendiri, ditanganinya tanpa menunggu bantuan suami. Ia belajar dengan tekun bagaimana memanfaatkan waktu seefisein mungkin. Dalam sehari semalam, Ainunlah yang mempersiapkan segala kebutuhan keluarga, mulai dari pengaturan menu sehat untuk keluarga, membersihkan rumah, menjahit pakaian, menyiapkan permainan edukatif untuk buah hati tercinta, hingga memadupadankan pakaian yang harus dikenakan sang suami tercinta.

6. Ada kalanya sang suami terpuruk dalam kekecewaan yang mendalam hingga semangatnya benar-benar jatuh. Dalam kondisi seperti ini Ainun dengan segala upaya berusaha membangkitkan kembali gairah hidup sang suami. Pernah suatu ketika Habibie mendapatkan ide briliant untuk membuat konstruksi pesawat yang kecepatan terbangnya melebihi tujuh kali kecepatan suara. Namun, pada saat bersamaan Habibie mengeluh karena ada perhitungan yang meleset. Ainun pun kemudian meredam kegalauan Habibie dengan mengingatkan adanya kemungkinan kesalahan dalam memasukkan data. Dan hal ini memang kemudian menyadarkan Habibie sehingga semangatnya bangkit kembali.

7. Habibie-Ainun bisa saling menghayati dan mendalami pikiran masing-masing. Keduanya lebih banyak mengungkapkan perasaan tersebut tanpa melalui lisan, melainkan melalui perbuatan. Di saat Habibie sedang menghadapi problema, Ainun dengan penuh pengertian membantu memecahkan persoalan sang suami sesuai dengan kemampuannya. Sebaliknya Habibie, ia senantiasa berusaha untuk meringankan pekerjaan sang istri. Pakar teknologi penerbangan ini tidak segan-segan untuk membersihkan rumah, mencuci piring, bahkan mengganti popok bayi, manakala sang istri sedang sibuk dengan aktivitas rumah tangga lainnya.

Itulah ketujuh perekat rumah tangga Habibie-Ainun. Semoga Kita semua bisa mempraktikkannya agar rumah tangga yang akan ataupun yang sedang dibangun ini bisa menghasilkan kebahagiaan tiada tara. aamiin..
Sumber : Dunia Islam

Dikirim pada 04 Februari 2013 di Cinta
Profile

Aku hanyalah orang biasa,. sederhana dan apa adanya,. More About me

Page



    Flag Counter
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 4.500.663 kali


connect with ABATASA