0
Dikirim pada 13 April 2015 di Hikmah

Oleh: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tata
cara pernikahan berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah
yang shahih sesuai dengan pemahaman para Salafush
Shalih, di antaranya adalah:
1. Khitbah (Peminangan)
Seorang laki-laki muslim yang akan menikahi seorang
muslimah, hendaklah ia meminang terlebih dahulu
karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang
lain. Dalam hal ini Islam melarang seorang laki-laki
muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh
orang lain. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang
membeli barang yang sedang ditawar (untuk dibeli) oleh
saudaranya, dan melarang seseorang meminang wanita
yang telah dipinang sampai orang yang meminangnya
itu meninggalkannya atau mengizinkannya.” [1]
Disunnahkan melihat wajah wanita yang akan dipinang
dan boleh melihat apa-apa yang dapat mendorongnya
untuk menikahi wanita itu.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila seseorang di antara kalian ingin meminang
seorang wanita, jika ia bisa melihat apa-apa yang dapat
mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah!” [2]
Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallaahu ‘anhu pernah
meminang seorang wanita, maka Nabi shallallaahu
‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:
“Lihatlah wanita tersebut, sebab hal itu lebih patut untuk
melanggengkan (cinta kasih) antara kalian berdua.” [3]
Imam at-Tirmidzi rahimahullaah berkata, “Sebagian ahli
ilmu berpendapat dengan hadits ini bahwa menurut
mereka tidak mengapa melihat wanita yang dipinang
selagi tidak melihat apa yang diharamkan darinya.”
Tentang melihat wanita yang dipinang, telah terjadi
ikhtilaf di kalangan para ulama, ikhtilafnya berkaitan
tentang bagian mana saja yang boleh dilihat. Ada yang
berpendapat boleh melihat selain muka dan kedua
telapak tangan, yaitu melihat rambut, betis dan lainnya,
berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
“Melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya.”
Akan tetapi yang disepakati oleh para ulama adalah
melihat muka dan kedua tangannya. Wallaahu a’lam. [4]
Ketika Laki-Laki Shalih Datang Untuk Meminang
Apabila seorang laki-laki yang shalih dianjurkan untuk
mencari wanita muslimah ideal -sebagaimana yang telah
kami sebutkan- maka demikian pula dengan wali kaum
wanita. Wali wanita pun berkewajiban mencari laki-laki
shalih yang akan dinikahkan dengan anaknya. Dari Abu
Hatim al-Muzani radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata,
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai
agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan
anak kalian). Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di bumi
dan kerusakan yang besar.’” [5]
Boleh juga seorang wali menawarkan puteri atau saudara
perempuannya kepada orang-orang yang shalih.
Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, ia berkata,
“Bahwasanya tatkala Hafshah binti ‘Umar ditinggal mati
oleh suaminya yang bernama Khunais bin Hudzafah as-
Sahmi, ia adalah salah seorang Shahabat Nabi yang
meninggal di Madinah. ‘Umar bin al-Khaththab berkata,
‘Aku mendatangi ‘Utsman bin ‘Affan untuk menawarkan
Hafshah, maka ia berkata, ‘Akan aku pertimbangkan
dahulu.’ Setelah beberapa hari kemudian ‘Utsman
mendatangiku dan berkata, ‘Aku telah memutuskan
untuk tidak menikah saat ini.’’ ‘Umar melanjutkan,
‘Kemudian aku menemui Abu Bakar ash-Shiddiq dan
berkata, ‘Jika engkau mau, aku akan nikahkan Hafshah
binti ‘Umar denganmu.’ Akan tetapi Abu Bakar diam dan
tidak berkomentar apa pun. Saat itu aku lebih kecewa
terhadap Abu Bakar daripada kepada ‘Utsman.
Maka berlalulah beberapa hari hingga Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam meminangnya. Maka, aku
nikahkan puteriku dengan Rasulullah. Kemudian Abu
Bakar menemuiku dan berkata, ‘Apakah engkau marah
kepadaku tatkala engkau menawarkan Hafshah, akan
tetapi aku tidak berkomentar apa pun?’ ‘Umar men-
jawab, ‘Ya.’ Abu Bakar berkata, ‘Sesungguhnya tidak ada
sesuatu yang menghalangiku untuk menerima
tawaranmu, kecuali aku mengetahui bahwa Rasulullah
telah menyebut-nyebutnya (Hafshah). Aku tidak ingin
menyebarkan rahasia Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa
sallam. Jika beliau meninggalkannya, niscaya aku akan
menerima tawaranmu.’” [6]
Shalat Istikharah
Apabila seorang laki-laki telah nazhar (melihat) wanita
yang dipinang serta wanita pun sudah melihat laki-laki
yang meminangnya dan tekad telah bulat untuk menikah,
maka hendaklah masing-masing dari keduanya untuk
melakukan shalat istikharah dan berdo’a seusai shalat.
Yaitu memohon kepada Allah agar memberi taufiq dan
kecocokan, serta memohon kepada-Nya agar diberikan
pilihan yang baik baginya. [7] Hal ini berdasarkan hadits
dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata,
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari
kami shalat Istikharah untuk memutuskan segala sesuatu
sebagaimana mengajari surat Al-Qur’an.” Beliau
shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila
seseorang di antara kalian mempunyai rencana untuk
mengerjakan sesuatu, hendaknya melakukan shalat
sunnah (Istikharah) dua raka’at, kemudian membaca
do’a:
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat
kepada-Mu dengan ilmu-Mu dan aku memohon
kekuatan kepada-Mu (untuk mengatasi persoalanku)
dengan ke-Mahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu
sesuatu dari anugerah-Mu yang Mahaagung, sungguh
Engkau Mahakuasa sedang aku tidak kuasa, Engkau
Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui dan
Engkaulah yang Maha Mengetahui yang ghaib. Ya Allah,
apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (orang
yang mempunyai hajat hendaknya menyebut
persoalannya) lebih baik dalam agamaku,
penghidupanku, dan akibatnya terhadap diriku (atau
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘..di dunia
atau akhirat) takdirkan (tetapkan)lah untukku,
mudahkanlah jalannya, kemudian berilah berkah atasnya.
Akan tetapi, apabila Engkau mengetahui bahwa
persoalan ini membawa keburukan bagiku dalam
agamaku, penghidupanku, dan akibatnya kepada diriku
(atau Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘…di
dunia atau akhirat’) maka singkirkanlah persoalan
tersebut, dan jauhkanlah aku darinya, dan takdirkan
(tetapkan)lah kebaikan untukku di mana saja kebaikan
itu berada, kemudian berikanlah keridhaan-Mu
kepadaku.’” [8]
Dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata,
“Tatkala masa ‘iddah Zainab binti Jahsy sudah selesai,
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada
Zaid, ‘Sampaikanlah kepadanya bahwa aku akan
meminangnya.’ Zaid berkata, ‘Lalu aku pergi mendatangi
Zainab lalu aku berkata, ‘Wahai Zainab, bergembiralah
karena Rasulullah mengutusku bahwa beliau akan
meminangmu.’’ Zainab berkata, ‘Aku tidak akan
melakukan sesuatu hingga aku meminta pilihan yang
baik kepada Allah.’ Lalu Zainab pergi ke masjidnya. [9]
Lalu turunlah ayat Al-Qur’an [10] dan Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam datang dan langsung
masuk menemuinya.” [11]
Imam an-Nasa’i rahimahullaah memberikan bab terhadap
hadits ini dengan judul Shalaatul Marhidza Khuthibat
wastikhaaratuha Rabbaha (Seorang Wanita Shalat
Istikharah ketika Dipinang).”
Fawaaid (Faedah-Faedah) Yang Berkaitan Dengan
Istikharah:
1. Shalat Istikharah hukumnya sunnah.
2. Do’a Istikharah dapat dilakukan setelah shalat
Tahiyyatul Masjid, shalat sunnah Rawatib, shalat Dhuha,
atau shalat malam.
3. Shalat Istikharah dilakukan untuk meminta
ditetapkannya pilihan kepada calon yang baik, bukan
untuk memutuskan jadi atau tidaknya menikah. Karena,
asal dari pernikahan adalah dianjurkan.
4. Hendaknya ikhlas dan ittiba’ dalam berdo’a Istikharah.
5. Tidak ada hadits yang shahih jika sudah shalat
Istikharah akan ada mimpi, dan lainnya. [12]
[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga
Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit
Putaka A-Taqwa Bogor – Jawa Barat, Cet Ke II Dzul
Qa’dah 1427H/Desember 2006]
__________
Foote Note
[1]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no.
5142) dan Muslim (no. 1412), dari Shahabat Ibnu ‘Umar
radhiyallaahu ‘anhuma. Lafazh ini milik al-Bukhari.
[2]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (III/334,
360), Abu Dawud (no. 2082) dan al-Hakim (II/165), dari
Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma.
[3]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no.
1087), an-Nasa-i (VI/69-70), ad-Darimi (II/134) dan
lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani
rahimahullaah dalam Shahiih Sunan Ibni Majah (no.
1511).
[4]. Lihat pembahasan masalah ini dalam Syarhus
Sunnah (IX/17) oleh Imam al-Baghawi, Syarh Muslim
(IX/210) oleh Imam an-Nawawi, Silsilah al-Ahaadiits
ash-Shahiihah (I/97-208, no. 95-98) oleh Syaikh al-
Albani, al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah
(V/34-36) oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah
dan Fiqhun Nazhar (hal. 82-89).
[5]. Hadits hasan lighairihi: Diriwayatkan oleh at-
Tirmidzi (no. 1085). Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-
Shahiihah (no. 1022).
[6]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no.
5122) dan an-Nasa-i (VI/77-78). Lihat Shahiih Sunan an-
Nasa-i (no. 3047).
[7]. Al-Insyiraah fii Aadabin Nikaah (hal. 22-23) oleh
Syaikh Abu Ishaq al-Khuwaini, Jaami’ Ahkaamin
Nisaa(III/216) oleh Musthafa al-‘Adawi dan Adabul
Khithbah waz Zifaaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal.
21-22) oleh ‘Amr ‘Abdul Mun’im Salim.
[8]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no.
1162), Abu Dawud (no. 1538), at-Tirmidzi (no. 480), an-
Nasa-i (VI/80), Ibnu Majah (no. 1383), Ahmad (III/334),
al-Baihaqi (III/52) dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah
radhiyallaahu ‘anhuma.
[9]. Yaitu mushalla tempat shalat di rumahnya.
[10]. Yaitu surat al-Ahzaab ayat 37. Allah telah
menikahkan Nabi shallal-laahu ‘alaihi wa sallam dengan
Zainab binti Jahsyi melalui ayat ini.
[11]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1428
(89)), an-Nasa-i (VI/79), dari Shahabat Anas
radhiyallaahu ‘anhu.
[12]. Jaami’ Ahkaamin Nisaa’ (III/218-222).

Anda akan menikah? buat website pernikahan anda yang dapat anda gunakan untuk undangan online atau informasi pernikahan anda, Gratis hanya di WebNikah.com.
Atau anda mempunyai bisnis dan usaha dalam layanan wedding seperti wedding organizer, Fotografi, Makeup atau fotografi, Gabung juga sebagai Vendor di Webnikah.com dan promosikan layanan anda. Daftarkan Wedding Service anda di Vendor WebNikah.com


Dikirim pada 13 April 2015 di Hikmah
comments powered by Disqus
Profile

Aku hanyalah orang biasa,. sederhana dan apa adanya,. More About me

Page
twitter



    Flag Counter
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 4.235.008 kali


connect with ABATASA