0
Dikirim pada 18 Juni 2013 di Hikmah

Wanita adalah segala fungsi, peran, dan kedudukannya di dalam keluarga maupun masyarakat memungkinkan untuk meraih kedudukan tertinggi di surga. Fitrahnya yang diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, butuh kehalusan dan kesabaran untuk menghadapinya. Tapi, apakah wanita selalu identik dengan mahluk lemah dan cengeng?


 


Seperti yang kita ketahui, hakikat wanita adalah makhluk yang penuh kelembutan, halus, sensitif, dan mudah tersentuh. Beberapa hak wanita yang harus diperoleh antara lain diayomi, dilindungi, dihargai, dihormati, serta diperhatikan.


 


Namun, seiring perkembangan zaman yang semakin ketat seringkali kodrat wanita harus dipertaruhkan demi bertahan di atas kehidupan yang keras. Emansipasi Wanita yang dahulu menjadi naungan berlindungnya para wanita, kini seringkali menjadi tombak untuk bertarung melawan persaingan globalisasi.


Seperti pemandangan yang sering kita lihat di sekitar, wanita tua yang seharusnya santai menikmati hari tuanya. Namun, harus rela berjemur di bawah terik matahari untuk menyambung hidup.


 


Cobalah kita tengok sebentar di sekitar kita. Sebagai renungan, kita ambil contoh di pasar. Mungkin pasar lebih identik dengan kaum hawa karena berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari yang pada umumnya memang tugas mereka. Tetapi jika lebih seksama lagi, keberadaan mereka di pasar tidaklah hanya sebagai konsumen. Keberadaan mereka ternyata juga sebagai penjual. Tak hanya sekadar penjual biasa. Penjual yang mencari nafkah. Sehingga seringkali masa tua mereka dihabiskan di sana.


 


Keterpurukan ekonomi bangsa yang melanda negeri harus menyulap tangan halus mereka menjadi tangan baja. Siap turun tangan dari fajar menyongsong sampai petang menjelang demi sesuap nasi. Menerima dengan lapang dada terik matahari mengubah kulit lembutnya menjadi hitam legam. Bulir-bulir air sebesar biji jagung dari kulit pori-pori membasahi wajah dan sekujur tubuh mereka.


 


Pendidikan rendah atau tidak sama sekali tahu bangku sekolah mungkin salah satu faktor mereka harus bekerja dengan urat dan otot. Bukan di sebuah ruangan ber-AC, duduk manis di sebuah ruangan bersih dan wangi, atau hanya tangan lentik nan indah mengetik di atas keyboard dan depan monitor.


Sebuah perjuangan hidup. Terkadang kaki yang sudah mulai rapuh harus siap mengayuh sepeda tua untuk mencari pelanggan, pundak yang sudah melemah harus siap memikul barang berat untuk dibarter menjadi lembaran uang yang tak seberapa. Entah itu barang dagangan atau barang bekas yang diperoleh dari tempat yang bau dan menjijikan.


 


Ekonomi yang tidak pernah kunjung membaik mengharuskan mereka memegang double-role dalam keluarga. Mereka harus siap menjadi Wonder woman bagi sekelilingnya. Kelembutan mereka bisa menjadi sebuah ketangguhan.


Jika kita mau flashback kembali kepada sejarah. Wanita tangguh sudah ada sejak zaman Fir'aun. Di balik kelembutannya, ada kekuataan dan keberanian yang tersembunyi. Masyithah tukang sisir anak Fir'aun rela direbus hidup-hidup demi mempertahankan aqidah dan kalimat tauhid. Hingga pengorbanaanya dibalas surga dan wangi-wangian.


 


Asma putri Abu Bakar, tegar saat melihat anak laki-lakinya Abdullah bin Zubair terbunuh dalam keadaan terpancang di tiang salib. Al Khansa yang telah menghadiahkan empat orang anaknya di jalan Allah hingga gugur mereka sebagai syuhada. Keanggunan mereka membuktikan dapat berubah menjadi keberanian yang luar biasa.


 


Mungkin keberanian para wanita sekarang melawan badai kehidupan merupakan titisan keberanian dari wanita-wanita terdahulu yang tangguh. Meski bukan keberanian menunggang kuda untuk melawan kaum kafir. Bukan pula keberanian direbus dalam keadaan hidup-hidup demi mempertahankan kalimat tauhid.


Lalu, bagaimana dengan tugas wanita yang sebenarnya? Bukankah mereka memiliki tugas sendiri? Menjaga rumah, menjaga anak-anak, menyiapkan makanan, bahkan membuat rumah seindah surga.


 


Mengingat kisah bang Toyib yang tak pulang-pulang, bisa menjadi salah satu pemicu isteri menjadi wanita tangguh. Gambaran suami yang tidak bertanggung jawab meninggalkan isteri dan anak-anak begitu saja tanpa kabar dan berita. Waktu erus berjalan, sementara kebutuhan hidup terus menuntut untuk dipenuhi. Berdiam duduk manis di rumah bukanlah jalan solusinya.


 


Ada yang kerja keras membanting tulang berangkat pagi pulang malam. Memikul beban berat sendiri. Bahkan rela menjadi pengisi devisa negara demi kebutuhan sehari-hari terpenuhi.


 


Setelah melihat roda kehidupan yang telah terjadi, ternyata keadaanlah yang sering membuat kodrat harus dipertaruhkan. Kehalusan dan kelembutan mereka harus disimpan dahulu untuk menentang kerasnya hidup.


 


Bahkan bisa semua jalan ditempuh demi mendapatkan sesuap nasi. Saat iman tidak melekat di hati, mata hati tertutup rapat, segala jalan ditempuh tanpa melihat halal dan haram. Kenyataan seperti itu sering kita lihat di ibu kota besar. Karena keterpurukan hidup wanita sering kali menjadi korban atau mengorbankan.


 


Wanita... kau tidak tercipta dari tulang kepala karena bukan untuk angkuh kepada suamimu. Tidak juga tercipta dari tulang kaki karena bukan untuk dihina oleh siapapun. Namun, kau tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. Dekat dengan hati agar selalu disayangi, bersabar menghadapi cobaan, dan tetap tegar meski kau dilanda kesedihan.


 


Jangan sekali-kali kalian mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah hidupmu, karena arga diri dan kehormatanmu lebih berharga. Kalian tetap makhluk indah dan anggun. Semerbak seperti bunga. Hiduplah seperti bunga edelweiss yang tegar dan kuat. Meski dirinya jarang merasakan air, tetap tegar dan kokoh berdiri. Jadilah edelweiss yang tegar dan putih seperti salju. Putih bersih dan dingin menyejukan.


 


Wanita derajatnya telah tinggi di hadapan Allah. Perhiasan yang paling indah adalah wanita solehah. Bahkan Wanita adalah tiangnya negara. Sudah seharusnya kaum wanita dihargai, diayomi, dan dijaga. Bukankah menjaga mereka sama artinya kita menjaga ibu, nenek, bahkan saudara perempuan kita?


Berbahagialah bagi para kaum hawa. Sejak kelahiran baginda Rasulallah SAW., derajat kalian dijunjung setinggi-tingginya. Kehormatan kalian dilindungi. Bahkan segala urusan wanita diatur serapi mungkin dalam kitab Suci Al-Qur'an.


 


Para kaum hawa yang kini menyebar di muka bumi... berpijaklah sebagaimana kodratmu. Perhatikan syari’at-Nya. Peranmu sangat penting. Dari rahimmu kelak akan terlahir generasi yang akan memperbaiki negerimu. Berjuanglah terus dengan kelembutanmu dan yakinlah bahwa ketangguhan dan keringatmu suatu saat bisa merubah dunia menjadi lebih baik.



Dikirim pada 18 Juni 2013 di Hikmah
comments powered by Disqus
Profile

Aku hanyalah orang biasa,. sederhana dan apa adanya,. More About me

Page
twitter



    Flag Counter
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 4.689.046 kali


connect with ABATASA