0
Dikirim pada 01 April 2013 di Hikmah

 

Pukul 4.05, alerm di hpku membangunkan. Ia ikut bangun. Padahal, aku tahu baru pukul 23.30, ia bisa tidur setelah berjibaku dengan kerjanya, kerja rumah tangga, mengurus anakku yg baru satu, dan mengurusi aku sebagai suami. Belum lagi, pukul 01.15 terbangun untuk sebuah interupsi.

Ups, rupanya ia lupa menyetrika baju kantorku. Aku mandi, shalat lail dan shalat subuh. Ia selesai pula menyelesaikan itu. Plus, satu stel pakaian kerjaku telah siap.

Aku siap berangkat. Ah, ada yang tertinggal rupanya. Aku lupa memandangi wajahnya pagi ini. “bunda, kamu cantik sekali hari ini,” kataku memuji.

Ia tersenyum. “ayah tebak sudah berapa lama kita menikah?” Aku tergagap sebentar. Melongo. Lho, koq nanya itu. Hatiku membatin. Aku berhenti sebentar dan menghitung sudah berapa lama kami bersama. Karena, perasaanku baru kemarin aku datang ke rumahnya untuk meminangnya.”Lho, baru kemarin aku datang untuk meminta kamu jadi istriku dan aku nyatakan ‘aku terima nikahnya dengan mas kawin sebagaimana tersebut tunai.” Kataku cuek sembari mengaduk kopi hangat rasa cinta dan perhatian darinya.

Ia tertawa. Wuih, manis sekali. Mungkin, bila kopi yang aku sruput tak perlu gula. Cukuplah pandangi wajahnya. “kita sudah lima tahun ayah.” Katanya memberikan tas kerjaku.

“aku berangkat ya bund, assalamualaikum,” kataku bergeming dari kalimat terakhir yang ia ajukan.

Aku buru-buru. “hati-hati yah dijalan.” Sejatinya, aku ingin ngobrol terus. Sayang, aku di jalan bersama sejumlah perasaan. Ada sesuatu yang hilang. Mungkin benar kata dewa, separuh nafasku hilang saat kau tidak bersamaku. Kembali wajahnya menguntit seperti hantu. Hm, cantiknya istriku. Sayang, waktu tidak berpihak kepadaku untuk lebih lama menikmatinya.

Sungguh, kala itu kupikir hanya wanita bodoh saja yang mau menerimaku, seorang jejaka tanpa harapan dan masa depan. Tanpa kerja dan orang tua mapan. Tanpa selembar modal ijazah sarjana. Tanpa dukungan dari keluarga besar untuk menanggung biaya-biaya operasional.

Kehidupan harus terus berjalan. Kutarik segepok udara untuk mengisi paru-paruku. Kurasakan syukur mendalam. Walau tanpa kerja dan orang tua mapan, ‘kapal’ku terus berlabuh. Bahkan, kini sudah mengarung lebih stabil dibanding dua dan tiga tahun pertama.

Ternyata, memang benar allah akan menjamin rezeki seorang yang menikah. Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak terduga. Walaupun tetap semua janji itu muncul dengan sunatullah, kerja keras. Kerja keras itu terasa nikmat dengan doa dan dampingan seorang wanita yang rela dan ikhlas menjadi istriku.

Namun, aku tahu wajah cantik istri ku mungkin akan memudar dengan segala kesibukan, mempersiapkan makanan untuk si ayah dan dede, belum lagi mengurusi tetek bengek rumah tangga. Kelelahan seolah menggeser kecantikan dan kesegarannya. Untunglah, saat aku pulang, ia bisa mengembalikan semua keceriaan itu dengan seulas senyum yang menyelinap dibalik penat dan kelelahan.

Istriku cantik sekali pagi ini. Maafkan aku tak bisa menemanimu. Namun, doa dan ridhaku selalu bersamamu.

Sayangku,kumohon dekat di sini, temani jasadku yang belum mati (ddg)

lihatlah kekurangan sebelum memutuskan menjadi pasangan, lihatlah kelebihan dan kebaikan sebelum memutuskan perpisahan…



Dikirim pada 01 April 2013 di Hikmah
comments powered by Disqus
Profile

Aku hanyalah orang biasa,. sederhana dan apa adanya,. More About me

Page
twitter



    Flag Counter
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 4.123.154 kali


connect with ABATASA