0


Assalamualaikum wr.wb.

“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”(Al-Mu’minun : 12-14)

Dari ayat tersebut kita bisa mengetahui bahwa sesungguhnya kita manusia diciptakan dari sesuatu yang hina, akan tetapi kebanyakan manusia tidak menyadarinya. Jikalah kita mengkaji ayat tersebut lebih dalam lagi, kita bisa melihat bahwa manusia diciptakan dari sesuatu yang hina lalu dibentuk menjadi sesuatu yang sempurna. Pernahkah kita berfikir apa yang membuat manusia itu bisa menjadi makhluk yang mulia dan sempurna di hadapan sang pencipta? Yang bisa membuat manusia menjadi Makhluk yang mulia dan sempurna di hadapan sang pencuipta adalah akal yang di miliki manusia. Perbedaan Manusia dengan Hewan ada pada akalnya, manusia diberikan akal oleh sang pencipta untuk bisa membedakan yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Manusia bisa disebut sebagai manusia apabila mau menggunakan akalnya, manusia yang tidak menggunakan akalnya malah menjadikan hawa nafsu sebagai landasan berbuat seperti dalam QS. Al-A’raaf : 176 yang berbunyi sebagai berikut :

“Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. Al-A’raaf :176)

Dalam ayat diatas manusia hendak dijadikan tinggi derajatnya tetapi manusia malah cenderung kepada hawa nafsu yang rendah, dan apabila manusia seperti itu maka tidak berbeda manusia tersebut dengan seekor anjing. Oleh karena itu jika manusia ingin derajatnya tinggi disisi sang pencipta maka menggunakan akal adalah sangat mutlak adanya, karena itu adalah titik pembeda antara manusia dengan hewan, jadi kita harus sadar bahwa kita adalah manusia bukanlah hewan yang berbuat berlandaskan hawa nafsunya yang rendah.

Salah satu hal yang penting untuk difikirkan oleh manusia adalah bagaimana adanya alam semesta ini, bagaimana bisa alam semesta ini ada begitu saja, dan bagaimana bisa kita ada dengan begitu saja tanpa ada yang menciptakan. Dan tidak akan mungkin alam semesta yang sebesar ini tidak ada yang mengaturnya. Seperti dalam QS. Ibrahim : 33 yang berbunyi sebagai berikut :

“Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” QS. (Ibrahim : 33)

Dari ayat diatas jelas bahwa Alam Semesta ini ada yang mengaturnya dan tidak berjalan sendiri. Lalu siapakah yang mengatur semua ini dan siapakah yang menciptkannya? Yang menciptakan manusia dan Alam Semesta adalah Alloh, seperti dalam QS. Al-A’raaf : 54 yang berbunyi :

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raaf : 54)


Ayat tersebut menjelaskan bahwa Alloh yang maha suci dan maha tinggi adalah Tuhan semesta alam yang menciptkan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, dan semuanya tidak luput dari kekuasaan dan kehendaknya, betapa alam semesta ini tidak akan berdaya apabila Alloh tidak mengaturnya. Dan apabila Alloh berkendak untuk menciptakan sesuatu kita tidak bisa berbuat apa-apa dan apabila Alloh hendak akan mengakhiri sesuatu maka kita tidak berdaya melawannya, Semua apa yang diciptakan Alloh tidaklah kekal. Alloh adalah yang maha berkehendak atas segala urusan yang ada di alam semesta, dan apabila Alloh berkehendak sesuatu maka Alloh hanya cukup berkata “Jadilah”, maka jadilah sesuatu tersebut, seperti dalam QS. Al-Baqoroh : 117 yang berbunyi :

“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, Maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" lalu jadilah ia.”(QS. Al-Baqoroh : 117)

Jelas bahwa Alloh adalah Kholiq yang maha berkehendak atas segala sesuatu dan tidak ada kholiq selain Alloh. Allohlah yang menciptakan buah-buahan dan hewan ternak untuk kita makan. Coba bayangkan kalaulah Alloh tidak menciptakan itu semua untuk manusia, bisa apa manusia? Bagaimana manusia bisa hidup? Selaku makhluk apa yang harus manusia lakukan kepada sang Kholiq yang telah menciiptakan? Pernahkah kita mendengar kata “Akhlaq” apa itu akhlaq? Akhlaq adalah sikap atau perilaku yang diperbuat Makhluk kepada sang Kholiq, Akhlaq bukanlah perilaku antar Makhluk. Bersyukur atas segala nikmat yang diturunkan oleh sang kholiq kepada Makhluk adalah Akhlaq yang benar yang harus dilakukan oleh manusia, Betapa buruknya akhlaq seorang makhluk kepada Alloh apabila ia tidak mau bersyukur kepada Alloh Kholiq alam semesta ini karena begitu banyak nikmat yang telah diberikannya seperti dalam surat Ar-Rohman manusia di ingatkan untuk bersyukur kepada Alloh bahkan sampai 31 kali Alloh mengulangnya “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Lalu bagaimanakah cara kita bersyukur kepada Alloh sebagai bentuk Akhlaq yang benar kepada sang Kholiq? Untuk bersyukur kepada Alloh maka yang harus kita lakukan adalah menyembah Alloh dan tidak mempersekutukannya dengan apapun, mau melakukan apa yang diperintahkannya dan mau menjauhi apa yang di larangannya, seperti dalam QS. An-nisa : 46 :


“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.”(QS. 4:36)

Maka sudah sepatutnya kita selaku makhluk hanya menyembah Alloh saja, karena dengan itulah kita bisa bersyukur atas segala nikmat yang diberikan olehnya, dan apabila kita mempersekutukan Alloh dengan Tuhan (Ilah) yang lain maka sungguh itu adalah Akhlaq yang buruk, karena itu membuktikan bahwa kita tidak bersyukur atas segala nikmat yang telah Alloh berikan kepada kita.

Maka sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Alloh kita haruslah menyembah dan beribadah kepada Alloh saja, dan mau menjalankan apa yang Alloh perintahkan dan menjauhi apa yang Alloh larang, serta meniadakan Ilah-ilah selain Alloh dalam hidup kita, yang berhak mengatur kita, yang harus kita taati dan yang harus kita sembah.

Demikian pembahasan ini semoga bermanfaat, tulisan selanjutnya saya akan membahas ilah-ilah selain Alloh. Mohon maaf apabila ada kesalahan, karena sesungguhnya yang benar itu hanya datang dari petunjuk Alloh dan yang salah itu datang dari kesalahan pribadi penulis.

semoga bermanfaat dan menjadi wawasan

Wassalamulaikum wr.wb

Dikirim pada 15 Mei 2014 di Hikmah
Awal « 1 » Akhir
Profile

Aku hanyalah orang biasa,. sederhana dan apa adanya,. More About me

Page



    Flag Counter
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 4.123.177 kali


connect with ABATASA