0
12 Jul
















Ini juga bukan tentang pertanyaan pelik dari handai taulan di saat silatil arham. Ini hanya kisah seorang pemuda 20 tahun yang merasa yakin pada pilihan, meski "nekad" barangkali adalah kata yang lebih tepat.
Dia bertemu calon istrinya pertama kali pada 8 Juli 2004 di rumah seorang Ustadz. Ya, sebab ketakpercayaan diri untuk berikhtiar mandiri, dia percayakan urusan "siapa" pada Allah dan serta guru yang dipandang mumpuni, barangkali agar lebih fokus mempersiapkan "bagaimana".
"Mau calon yang kriterianya seperti apa?", tanya sang Ustadz tempo hari.
"Yang shalihah dan menshalihkan", jawabnya.
"Bagus. Tapi abstrak. Bisa agak konkret sedikit?"
"Emm.. Yang punya sedikitnya 3 kelompok binaan pengajian?"
"OK. Mantap. Baarakallaahu fiik."
Lalu tak lama, diapun telah memegang beberapa lembar biodata. Dia telah tahu nama, orang tua, saudara, pendidikan, tinggi dan berat badan, aktivitas, hobi, tradisi keluarga, hingga penyakit yang pernah diderita. Dan hari untuk berjumpa dan melihatnya pun tiba.
انْظُرْ إِلَيْهَا، فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا
“Lihatlah wanita yang akan kaunikahi itu, karena yang demikian lebih mungkin melanggengkan hubungan di antara kalian berdua.” (HR. An Nasa`i/3235, At Tirmidzi/1087. Dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah/96)
Nasehat Rasulullah untuk Al Mughirah ibn Syu`bah ini sebenarnya hendak dia `amalkan segera. Ketika membaca bahwa gadis itu bekerja paruh waktu di sela kuliah sebagai Asisten Apoteker, diapun mencoba untuk mengamatinya. Kali itu dengan cara sembunyi-sembunyi seperti Sayyidina Jabir diajari Sang Nabi.
Belanja ke Apotek dimaksud, dibelinya multivitamin seharga 18 ribu. Tapi ternyata AA tugasnya di belakang, meracik obat, bukan melayani pembeli. Nazhar pertama seharga 18 ribu itu gagal total.
Maka di pertemuan 8 Juli itu diniatkanlah untuk melihat. Namun apa daya, ternyata sepanjang pertemuan tak banyak kata, dan pemuda ini terus-menerus menundukkan kepala, sama sekali tak berani menatap langsung pada gadis yang ada di hadapannya.
Untunglah meja ruang tamu itu terbuat dari kaca. Bening sekali.😉
Baru pada pertemuan kedua pada 12 Juli, dengan dimoderatori pasangan Ustadz dan sang istri, terjadilah diskusi. Pertanyaan, "Visi misi pernikahan menurut Anda?", "Bagaimana konsep pendidikan anak yang tepat?", "Apa pandangan Anda tentang istri yang berkarier?", "Seperti apa proyeksi nafkah nantinya?", "Bagaimana pendapat Anda tentang homeschooling?", "Rencana tempat tinggal dan penataannya?", diberondongkan dengan lebih mengerikan daripada ujian pendadaran.
Tapi endingnya adalah pengakuan.
"Maaf, saya tidak bisa memasak."
Si pemuda bergumam dalam hati, "Ya Allah aku kemarin minta yang shalihah dan menshalihkan. Mengingati Ibunda `Aisyah, rupanya pandai memasak belum termasuk di situ. Ya Allah apakah Kau menguji kesungguhan kriteriaku?" Lalu dia kuatkan hati, "Tidak apa Ukhti. Di kota ini banyak rumah makan. Murah-murah lagi."
"Saya juga tidak terbiasa mencuci."
"Alamak", batin hati si pemuda. Tapi mengingat hal yang sama, dia berkata lagi, "Tidak apa Ukhti. Di kota ini banyak laundry. Kiloan lagi."
"Saya bukan mencari tukang masak dan tukang cuci. Melainkan seorang istri. Kalau diperkenankan, saya akan segera menghadap pada Ayah Anda." Maka hari itu, tanggal lamaran pun ditetapkan pada enam hari kemudian, tepatnya 18 Juli.
Kisahnya akan bersambung dalam tulisan "Kapan Melamar?" yang akan datang insyaallah. Sementara itu, pertanyaannya: mengapa pacaran tak memberi kita perkenalan sejati? Karena kita selalu ingin tampil lebih demi memikat hati. Lalu ketika dua hati telah terikat janji, mental set "beri penawaran terbaik" tak diperlukan lagi.
Maka dalam konseling pernikahan, keluhan pasutri yang memukadimahi rumahtangga dengan pacaran biasanya berbunyi, "Tolong Ustadz.. Suami saya sudah kelihatan aslinya."
Nah bagaimana saling mengenal yang hakiki? Ta`aruf itu istilah umum. Dalam Al Quran, ia adalah hikmah diciptakannya kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Jadi, kapan ta`arufnya suami-istri?
Ta`aruf itu seumur hidup. Sebab manusia adalah makhluq penuh dinamika. Dia sedetik lalu takkan persis serupa dengan kini adanya. Ta`aruf itu seumur hidup. Sebab kenal sejati adalah saat bergandengtangan dalam surgaNya.
Dua belas tahun berta`aruf, pemuda itu masih terus belajar mengenal istrinya. Dan selalu ada kejutan ketika prasangka baik dikedepankan. Misalnya, si dia yang mengaku tak bisa memasak itu, pada HUT RI ke-60 setahun kemudian, menjadi juara lomba masak Agustusan. Tingkat RT. Lumayan bukan?

Salim A. Fillah

Dikirim pada 12 Juli 2016 di Muhasabah









1. Seorang wanita yang jatuh cinta terhadap seorang lelaki, lalu meminta bantuan -mak comblang- agar dijodohkan. Inilah kisah "Separuh Hati" Rasûlullah dan Siti Khadijah. Ketika itu, Siti Khadijah meminta bantuan Maisarah, seorang budak yang menjadi asisten Rasul ketika berdagang, diminta Khadijah untuk menyampaikan isi hatinya kepada Nabi Muhammad Saw yang pada saat itu belum menjadi nabi.

2. Pasangan yang belum terpikir menikah yang akhirnya ijab qabul karena dijodohkan. Hal ini terjadi pada pernikahan Rasul Saw. dengan Siti Saudah. Pada waktu itu, keduanya tidak terfikir untuk menikah disebabkan keadaan masing-masing yang masih berkabung akibat ditinggal oleh pasangannya masing-masing. Akan tetapi, atas jasa Haulah, sang mak comblang, keduanya akhirnya berijab qabul.

3. Seorang pria yang langsung menyatakan pada pujaan hatinya. Kasus ini pernah dicontohkan oleh Rasul Saw. terhadap Siti `Aisyah, dimana Rasul sendiri yang memilih dan menkhitbahnya. Beliau berterus terang kepada `Aisyah dan mendatangi Abu AshShidiq, Ayah `Aisyah untuk menikahi putrinya.

4. Orang tua yang nawarin putrinya untuk dinikahi. Perjodohan seperti ini pernah terjadi antara Rasul Saw. dengan Hafshah dimana orang tua Hafshah sendiri, yaitu Umar bin Khattab yang menawarkan putrinya yang berstatus janda ditinggal syahid kepada Nabi Muhammad Saw. Sebelumnya Hafshah pernah ditawarkan kepada Abu Bakar, kemudian Utsman, akan tetapi tidak berhasil.

5. Seorang wanita yang menyatakn pda pujaan hatinya. Hal ini terjadi pada pernikahan Rasul Saw. dengan Zainab bt. Jahsy. Zainab lah yang pertama kali mengungkapkan isi hatinya kepada Rasul Saw, kemudian beliau menikahinya.

6. Seorang lelaki yg bak ketiban durian runtuh. Ini pernah terjadi ketika Rasul menolak pinangan seorang wanita. Dikarenakan Rasul tidak berkenan menikahi wanita tersebut, akhirnya seorang lelaki mendapatkan pasangan hidup.

Semoga berkah dikala setiap tahapannya. Semoga berkah disetiap keshabarannya selamat menemukan "separuh aku"-nya. Dan menggenapkan separuhnya.
Sebab cinta adalah kebiasaan. Maka rawatlah ia agar terus berdetak.

Dikirim pada 12 Juli 2016 di Cinta

Islam hanya mengajarkan bentuk-bentuk curahan kasih
sayang dan cinta itu setelah melalui satu proses sakral
yakni pernikahan.
Adapun beberapa tahapan yang perlu dilewati, antara
lain :
1. Ta’aruf (Perkenlan) 3. Nikah
2. Khitbah (lamaran) 4. Walimah
Ta’aruf (perkenalan).
Yang penting dari ta’aruf adalah saling mengenal antara
kedua belah pihak, saling memberitahu keadaan keluarga
masing-masing, saling memberi tahu harapan dan
prinsip hidup, saling mengungkapkan apa yang disukai
dan tidak disukai, dan seterusnya. Kaidah-kaidah yang
perlu dijaga dalam proses ini intinya adalah saling
menghormati apa yang disampaikan lawan bicara,
mengikuti aturan pergaulan Islami, tak berkhalwat, tak
mengumbar pandangan.
Bila belum berani bertatap muka langsung (yang
tentunya ditemani oleh mahramnya ^-^), anda bisa
memilih alternatif berikut..
Yaitu dengan mencari tahu kepribadian calon pasangan
dengan meminta teman kita ( pria-wanita ) untuk
mengorek informasi dari orang-orang terdekatnya.
Informasi apa yang kira-kira perlu kita ketahui ? Coba
Titipkan pertanyaan ringan berikut..
Agama: “Adakah amalan sunnah yang sudah jadi
kebiasaan?” karena mereka yang mampu merawat amalan
sunnah, sudah hampir dipastikan amalan wajibnya tidak
terbengkalai.
Akhlak: “Bagaimana perhatiannya dengan keluarganya?”
karena dia yang sangat perhatian dengan keluarga sudah
barang tentu besoknya keluarga akan jadi perhatian
utama. “Apakah emosinya stabil?” Karena kalau
emotionalnya stable, bagus dia sudah mulai masuk area
kedewasaan yang matang. Pancing orangnya dengan
membeberkan atau menanyakan salah satu kejelekan
orang . Kalo tidak berminat berarti aman.
Pemikiran: Menyatukan visi itu sangat penting sehingga
tau mau dibawa kemana keluarga ini? Atau pendidikan
semacam apa yang diberikan kepada anak. Visi bisa
ditanyakan langsung, “apa visimu wahai calon teman
setiaku?”. Untuk ngecek apakah ngegombal atau gak,
cek melalui teman dengan pertanyaan, “Bahasan apa
yang sering diperbincangkan? Agama? Pendidikan?
Hiburan?”. Kalo pengen yang sama-sama berjuang dalam
berdakwah pilih yang mengutamakan bahasan agama.
Tambahan, kalo pengen yang cerdas selidiki sekritis apa
dia menilai sesuatu.
Sosok calon: Foto tidak menjamin sama dengan kualitas
fisiknya. Baiknya ketemu langsung atau kalo cari aman
(dari penyakit hati), lihat dari kejauhan bagaimana
sebenarnya fisiknya. Kalo anaknya berjilbab gak mungkin
donk minta dibuka gitu, tanya ke temen deketnya apakah
ada yang minus? misal ada yang tidak normal atau
punya penyakit kulit?.
Pola pengelolaan keuangan: “Bagaimana model
belanjanya? Membeli tanpa pikir panjang? atau Sering
ngutang?”
Dalam tahap ini anda dan dia bisa saling mengukur diri
apakah cocok satu sama lain atau tidak. Masing-masing
pihak masih harus sama-sama membuka options/
kemungkinan batal atau jadi. Maka umumnya dilakukan
tanpa terlebih dahulu melibatkan orangtua agar tidak
menimbulkan kesan ‘harga jadi’ dan tidak ada lagi
proses tawar menawar, sehingga jika pun gagal/batal
tidak ada konsekuensi apa-apa. Karena jika sudah
sampai menemui orangtua berarti secara samar maupun
terang-terangan seorang pria sudah menunjukkan niat
untuk memperistri si wanita. Yang perlu di ingat,
seringkali pasangan-pasangan itu terjebak dalam
aktifitas pacaran yang terbungkus sampul ta’aruf.
Apa namanya bukan pacaran kalau ada rutinitas
kunjungan yang melegitimasi silaturahmi dengan embel-
embel ‘ingin lebih kenal’.
Khitbah (lamaran)
Khitbah adalah jalan pembuka menuju pernikahan. Boleh
dibilang, khitbah merupakan jenjang yang memisahkan
antara pemberitahuan persetujuan seorang gadis yang
sedang dipinang oleh seorang pemuda dan
pernikahannya. Keduanya sepakat untuk menikah. Tapi,
ini hanya sekadar janji untuk menikah yang tidak
mengandung akad nikah.
Batasan Khitbah :
1. Khitbah biasanya, peminangan seorang pria kepada
wanita (tentunya kepada wali wanita tersebut). seorang
wanita juga bisa meminta kepada pria untuk dinikiahi.
Rasulullah bersabda yang di riwayatkan oleh imam
bukhari dan muslim. Yang artinya: telah datang seorang
prempuan kepada Rasulullah yang mana prempuan
tersevut meminta kepada nabi untuk
menikahinya,sehingga nabi berdiri di sampingnya lama
sekali, ketika itu salah satu dari sahabat melihatnya dan
beranggapan bahwa beliau tidak berkehendak untuk
menikahinya, maka sahabat tersebut berkata: nikahkan
saya ya Rasullah jikalau kamu tidak ada hajah
(berkehendak) untuk menginginkannya, maka berkata
Rasulullah : apakah kamu punya punya sesuatu? dia
berkata tidak!, dan beliau berkata lagi buatlah cicin
walaupun dari besi, kemudian sahabat tersebut
mencarinya dan tidak mendapatkan nya, kemudian beliau
bersabda : apakah kamu hafal beberapa surat dari
alquran ?Dia menjawab iya!surat ini dan ini,maka beliau
bersabda : saya nikahkan kamu dengan nya dengan apa
yang kamu hafal dari alquran.”
Dari kontek hadist di atas sudah jelas sekali bahwa di
perbolehkan bagi perempuan untuk meminta kepada
seorang lelaki soleh yang bertaqwa dan berpegang
teguh terhadap Dinnya untuk meminangnya, jika lelaki
tersebut ingin maka nikahi dan jikalau tidak maka
tolaklah, akan tetapi tidak di anjurkan untuk menolaknya
secara terang-terangan cukup diam dengan memberikan
isyarat, untuk menjaga kehormatan hati prempuan
tersebut .
2. Khitbah bukan menghalalkan segalanya Khitbah
(tunangan) bukanlah syarat sahnya nikah ,akad nikah
tanpa khitbah tetap sah, akan tetapi khitbah suatu
wasilah untuk menuju ke jenjang pernikahan yang di
perbolehkan .
Mari kita simak syafi’iyah: khitbah adalah suatu yang di
sunatkan dan di anjurkan ,dengan dalil fi’iliyah sebagai
mana Rasulullah meminang aisyah binti abu bakar ra.
Dalam masa penantian sebelum resmi menikah, seorang
lelaki dan perempuan wajib menjaga kehormatan dirinya.
Meskipun sudah melakukan khitbah atau pertunangan,
tetap saja keduanya belum dihalalkan untuk melakukan
sesuatu yang lazim dipraktekkan pasangan suami isteri.
Dari sini, tidak dibenarkan bagi kedua tunangan untuk
melanggar batas-batas syariat, seperti percampuran dan
kencan. Ketentuan umum terkait aurat, ikhtilath/khalwat
tetap menjadi larangan. Untuk menghindari hal-hal
sepertiini, solusi terbaik adalah tindakan preventif dari
hal-hal yang diharamkan Allah swt, termasuk menjaga
jarak dengan calon isteri atau suaminya sedini mungkin.
Sebab, hubungan khatib (pelamar) dgn makhtubahnya
(perempuan yang dilamar) adalah hubungan yang paling
rawan dan berbahaya.
3. Jangan berlama dalam masa khitbah Meski tidak ada
nash khusus tentang batas waktu masa khitbah, tapi
dianjurkan menikah dan khitbah tidak terlalu lama. Untuk
menghindarkan fitnah dan berbagai potensi terjadinya
kerusakan. Sesudah khitbah (permohonan menikah)
disetujui, sebaiknya keluarga kedua pihak
bermusyawarah mengenai kapan dan bagaimana walimah
dilangsungkan.
“Dan sesuatu yang mengantarkan kepada keharaman,
haram pula hukumnya”
4. Haram meminang pinangan saudaranya diriwayatkan
oleh al-Bukhari bahwa Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma
menuturkan: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
melarang sebagian kalian membeli apa yang dibeli
saudaranya, dan tidak boleh pula seseorang meminang
atas pinangan saudaranya hingga peminang sebelumnya
meninggalkannya atau peminang mengizinkan
kepadanya”
Boleh hukumnya mengkhitbah lewat SMS, karena ini
termasuk mengkhitbah lewat tulisan (kitabah) yang
secara syar’i sama dengan khitbah lewat ucapan. Kaidah
fikih menyatakan : al-kitabah ka al-khithab (tulisan itu
kedudukannya sama dengan ucapan/lisan). (Wahbah Az-
Zuhaili, Ushul Al-Fiqh Al-Islami, 2/860). Kaidah itu
berarti bahwa suatu pernyataan, akad, perjanjian, dan
semisalnya, yang berbentuk tulisan (kitabah) kekuatan
hukumnya sama dengan apa yang diucapkan dengan
lisan (khithab).
Namun setelah saya coba konsultasi dengan mas’ul, bila
SMS ini juga sudah disetujui oleh sang akhwat(wanita),
maka haruslah setelah itu sang ikhwan(pria) berkunjung
bersama walinya ke orang tua akhwat tersebut. agar
khitbahnya menjadi sah.
Yang perlu disadari, khitbah mirip jual beli, dalam masa
tawar menawar bisa jadi, bisa juga batal. Pembatalannya
harus tetap sopan menurut aturan Islami, tidak menyakiti
hati dengan kata-kata yang kasar, tidak membicarakan
aib yang sempat diketahui dalam khitbah kepada orang
lain. Namun sebagaimana jual beli harus ada prinsip
kedua belah pihak ridho. Khitbah baru bisa berlanjut ke
pernikahan jika kedua pihak ridho, jika salah satu
membatalkan proses tawar menawar maka pernikahan tak
akan jadi. Kalaupun dibatalkan (meski mungkin
menyakitkan), harus ada alasan yang kuat untuk salah
satu pihak membatalkan rencana nikah yang sudah
matang. Sebab Islam melarang ummatnya saling
menyakiti tanpa alasan. Jadi jika ada yang ragu (dengan
alasan yang benar) sebelum menikah, sebaiknya
membatalkan sebelum terlanjur.
Nikah Tidak ada satu nash pun baik dalam Al-Qur`an
maupun As-Sunnah yang menetapkan batasan waktu
antara khitbah dan nikah. Baik tempo minimal maupun
maksimal. (Yahya Abdurrahman, Risalah Khitbah, hal.
77). Dengan demikian, boleh saja jarak waktu antara
khitbah dan nikah hanya beberapa saat, katakanlah
beberapa menit saja. Boleh pula jarak waktunya sampai
hitungan bulan atau tahun. Semuanya dibolehkan,
selama jarak waktu tersebut disepakati pihak laki-laki
dan perempuan. Satu hari bisa jadi sudah deadline bagi
pria-wanita yang sudah sedemikian menggebunya
hingga khawatir terjerumus kepada dosa zina. Namun
jika bisa merasa ‘aman’ dengan menunda beberapa
waktu tidak masalah.
Walimah Wajib mengadakan walimah setelah dhukul
(bercampur), berdasarkan perintah Nabi saw. kepada
Abdurrahman bin ’Auf r.a. agar menyelenggarakan
walimah sebagaimana telah dijelaskan pada hadits
berikut. Dari Buraidah bin Hushaib bertutur, ”Tatkala Ali
melamar Fathimah r.anha, berkata, bahwa Rasulullah saw
bersabda, ”Sesungguhnya pada perkawinan harus
diadakan walimah.” (Shahih Jami’us Shaghir no:2419 dan
al-Fathur Rabbani XVI:205 no:175).
Beberapa hal yang patut diperhatikan dalam
penyelenggaraan walimah :
a. HENDAKNYA walimah dilaksanakan dalam tiga hari,
setelah dhukhul (bercampur), karena perbuatan inilah
yang dinukil dari Nabi saw. Anas r.a. bertutur, “Nabi
saw. menikahi Syafiyah dan menjadikan pemerdekaannya
sebagai maharnya dan mengadakan walimah selama tiga
hari.” (Sanadnya Shahih: Adabuz Zifaf hal.74,
diriwayatkan Abu Ya’la dengan sanad hasan
sebagaimana yang disebutkan dalam Fathul Bari, IX:199
dan yang sema’na diriwayatkan Imam Bukhari
sebagaimana yang dijelaskan dalam Fathul Bari IX:224
no:1559. Demikian menurut Syaikh al-Albani.
b. Mengundang orang-orang yang shalih baik fakir
maupun kaya, karena Rasulullah saw. bersabda,
“Janganlah kamu bersahabat kecuali dengan orang
mukmin. Dan Jangan (pula) menyantap makananmu
kecuali orang yang bertakwa.” (Hasan: Shahihul Jami’us
Shaghir no:7341, ‘Aunul Ma’bud XIII:178 no:4811 dan
IV:27 no:2506).
c. Hendaknya mengadakan walimah, dengan memotong
seekor kambing atau lebih, bila mampu. Hal ini
berdasarkan sabda Nabi saw. yang ditujukan kepada
Abdurrahman bin ’Auf r.a., ”Adakanlah walimah meski
hanya dengan menyembelih seekor
kambing.” (Muttafaqun ’alaih). Dari Anas r.a. berkata,
”Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. mengadakan
walimah untuk pernikahan dengan seorang wanita
sebagaimana yang beliau adakan ketika kawin dengan
Zainab dimana beliau menyembelih seekor
kambing.” (Muttafaqin ’alaih: Muslim II:1049 no:90 dan
1428, dan lafadz ini baginya, Fathul Bari IX:237 no:5171,
dan Ibnu Majah I:615 no:1908).
Boleh menyelenggarakan acara walimah dengan
hidangan yang mudah didapatkan walaupun tanpa
daging berdasarkan hadits Anas. Dari Anas r.a. berkata,
”Nabi saw. pernah menginap tiga hari di suatu tempat
antara Khabir dan Madinah untuk menyelenggarakan
perkawinan dengan Shafiyah binti Huyay. Kemudian aku
mengundang kaum muslimin untuk menghadiri walimah
Beliau. Dan tidak didapatkan dalam walimah tersebut ada
roti ada daging, lalu diatasnya diletakkanlah korma
kering dan minyak samin. Sehingga hidangan itu
menjadi walimah Beliau.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari
IX:224 no:1559 dan lafadz ini baginya, Imam Bukhari,
Muslim II:1043 no:1365 dan Nasa’i VI:134).
Tidak boleh mengkhususkan undangan hanya untuk
orang-orang kaya, tanpa orang-orang miskin, Nabi saw
bersabda, ”Seburuk-buruk hidangan ialah hidangan
walimah. Dimana orang yang berhak mendatanginya
(orang yang berhak mendatanginya: orang miskin)
dilarang mengambilnya, sedangkan orang yang enggan
mendatanginya (Orang yang enggan mendatanginya:
orang kaya (peng..)) diundang (agar memakannya). Dan
barangsiapa yang tidak memenuhi undangan, maka
sungguh ia bermaksiat kepada Allah dan Rasul-
Nya.” (Muttafaqun ’alaih: Muslim II:1055 no:110/1432,
dan diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim juga
dari Abu Hurairah secara mauquf padanya bisa dilihat
dalam Fathul Bari IX:244 no:5177).

Dikirim pada 13 April 2015 di Hikmah


Oleh: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tata
cara pernikahan berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah
yang shahih sesuai dengan pemahaman para Salafush
Shalih, di antaranya adalah:
1. Khitbah (Peminangan)
Seorang laki-laki muslim yang akan menikahi seorang
muslimah, hendaklah ia meminang terlebih dahulu
karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang
lain. Dalam hal ini Islam melarang seorang laki-laki
muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh
orang lain. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang
membeli barang yang sedang ditawar (untuk dibeli) oleh
saudaranya, dan melarang seseorang meminang wanita
yang telah dipinang sampai orang yang meminangnya
itu meninggalkannya atau mengizinkannya.” [1]
Disunnahkan melihat wajah wanita yang akan dipinang
dan boleh melihat apa-apa yang dapat mendorongnya
untuk menikahi wanita itu.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila seseorang di antara kalian ingin meminang
seorang wanita, jika ia bisa melihat apa-apa yang dapat
mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah!” [2]
Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallaahu ‘anhu pernah
meminang seorang wanita, maka Nabi shallallaahu
‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:
“Lihatlah wanita tersebut, sebab hal itu lebih patut untuk
melanggengkan (cinta kasih) antara kalian berdua.” [3]
Imam at-Tirmidzi rahimahullaah berkata, “Sebagian ahli
ilmu berpendapat dengan hadits ini bahwa menurut
mereka tidak mengapa melihat wanita yang dipinang
selagi tidak melihat apa yang diharamkan darinya.”
Tentang melihat wanita yang dipinang, telah terjadi
ikhtilaf di kalangan para ulama, ikhtilafnya berkaitan
tentang bagian mana saja yang boleh dilihat. Ada yang
berpendapat boleh melihat selain muka dan kedua
telapak tangan, yaitu melihat rambut, betis dan lainnya,
berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
“Melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya.”
Akan tetapi yang disepakati oleh para ulama adalah
melihat muka dan kedua tangannya. Wallaahu a’lam. [4]
Ketika Laki-Laki Shalih Datang Untuk Meminang
Apabila seorang laki-laki yang shalih dianjurkan untuk
mencari wanita muslimah ideal -sebagaimana yang telah
kami sebutkan- maka demikian pula dengan wali kaum
wanita. Wali wanita pun berkewajiban mencari laki-laki
shalih yang akan dinikahkan dengan anaknya. Dari Abu
Hatim al-Muzani radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata,
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai
agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan
anak kalian). Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di bumi
dan kerusakan yang besar.’” [5]
Boleh juga seorang wali menawarkan puteri atau saudara
perempuannya kepada orang-orang yang shalih.
Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, ia berkata,
“Bahwasanya tatkala Hafshah binti ‘Umar ditinggal mati
oleh suaminya yang bernama Khunais bin Hudzafah as-
Sahmi, ia adalah salah seorang Shahabat Nabi yang
meninggal di Madinah. ‘Umar bin al-Khaththab berkata,
‘Aku mendatangi ‘Utsman bin ‘Affan untuk menawarkan
Hafshah, maka ia berkata, ‘Akan aku pertimbangkan
dahulu.’ Setelah beberapa hari kemudian ‘Utsman
mendatangiku dan berkata, ‘Aku telah memutuskan
untuk tidak menikah saat ini.’’ ‘Umar melanjutkan,
‘Kemudian aku menemui Abu Bakar ash-Shiddiq dan
berkata, ‘Jika engkau mau, aku akan nikahkan Hafshah
binti ‘Umar denganmu.’ Akan tetapi Abu Bakar diam dan
tidak berkomentar apa pun. Saat itu aku lebih kecewa
terhadap Abu Bakar daripada kepada ‘Utsman.
Maka berlalulah beberapa hari hingga Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam meminangnya. Maka, aku
nikahkan puteriku dengan Rasulullah. Kemudian Abu
Bakar menemuiku dan berkata, ‘Apakah engkau marah
kepadaku tatkala engkau menawarkan Hafshah, akan
tetapi aku tidak berkomentar apa pun?’ ‘Umar men-
jawab, ‘Ya.’ Abu Bakar berkata, ‘Sesungguhnya tidak ada
sesuatu yang menghalangiku untuk menerima
tawaranmu, kecuali aku mengetahui bahwa Rasulullah
telah menyebut-nyebutnya (Hafshah). Aku tidak ingin
menyebarkan rahasia Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa
sallam. Jika beliau meninggalkannya, niscaya aku akan
menerima tawaranmu.’” [6]
Shalat Istikharah
Apabila seorang laki-laki telah nazhar (melihat) wanita
yang dipinang serta wanita pun sudah melihat laki-laki
yang meminangnya dan tekad telah bulat untuk menikah,
maka hendaklah masing-masing dari keduanya untuk
melakukan shalat istikharah dan berdo’a seusai shalat.
Yaitu memohon kepada Allah agar memberi taufiq dan
kecocokan, serta memohon kepada-Nya agar diberikan
pilihan yang baik baginya. [7] Hal ini berdasarkan hadits
dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata,
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari
kami shalat Istikharah untuk memutuskan segala sesuatu
sebagaimana mengajari surat Al-Qur’an.” Beliau
shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila
seseorang di antara kalian mempunyai rencana untuk
mengerjakan sesuatu, hendaknya melakukan shalat
sunnah (Istikharah) dua raka’at, kemudian membaca
do’a:
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat
kepada-Mu dengan ilmu-Mu dan aku memohon
kekuatan kepada-Mu (untuk mengatasi persoalanku)
dengan ke-Mahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu
sesuatu dari anugerah-Mu yang Mahaagung, sungguh
Engkau Mahakuasa sedang aku tidak kuasa, Engkau
Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui dan
Engkaulah yang Maha Mengetahui yang ghaib. Ya Allah,
apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (orang
yang mempunyai hajat hendaknya menyebut
persoalannya) lebih baik dalam agamaku,
penghidupanku, dan akibatnya terhadap diriku (atau
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘..di dunia
atau akhirat) takdirkan (tetapkan)lah untukku,
mudahkanlah jalannya, kemudian berilah berkah atasnya.
Akan tetapi, apabila Engkau mengetahui bahwa
persoalan ini membawa keburukan bagiku dalam
agamaku, penghidupanku, dan akibatnya kepada diriku
(atau Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘…di
dunia atau akhirat’) maka singkirkanlah persoalan
tersebut, dan jauhkanlah aku darinya, dan takdirkan
(tetapkan)lah kebaikan untukku di mana saja kebaikan
itu berada, kemudian berikanlah keridhaan-Mu
kepadaku.’” [8]
Dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata,
“Tatkala masa ‘iddah Zainab binti Jahsy sudah selesai,
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada
Zaid, ‘Sampaikanlah kepadanya bahwa aku akan
meminangnya.’ Zaid berkata, ‘Lalu aku pergi mendatangi
Zainab lalu aku berkata, ‘Wahai Zainab, bergembiralah
karena Rasulullah mengutusku bahwa beliau akan
meminangmu.’’ Zainab berkata, ‘Aku tidak akan
melakukan sesuatu hingga aku meminta pilihan yang
baik kepada Allah.’ Lalu Zainab pergi ke masjidnya. [9]
Lalu turunlah ayat Al-Qur’an [10] dan Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam datang dan langsung
masuk menemuinya.” [11]
Imam an-Nasa’i rahimahullaah memberikan bab terhadap
hadits ini dengan judul Shalaatul Marhidza Khuthibat
wastikhaaratuha Rabbaha (Seorang Wanita Shalat
Istikharah ketika Dipinang).”
Fawaaid (Faedah-Faedah) Yang Berkaitan Dengan
Istikharah:
1. Shalat Istikharah hukumnya sunnah.
2. Do’a Istikharah dapat dilakukan setelah shalat
Tahiyyatul Masjid, shalat sunnah Rawatib, shalat Dhuha,
atau shalat malam.
3. Shalat Istikharah dilakukan untuk meminta
ditetapkannya pilihan kepada calon yang baik, bukan
untuk memutuskan jadi atau tidaknya menikah. Karena,
asal dari pernikahan adalah dianjurkan.
4. Hendaknya ikhlas dan ittiba’ dalam berdo’a Istikharah.
5. Tidak ada hadits yang shahih jika sudah shalat
Istikharah akan ada mimpi, dan lainnya. [12]
[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga
Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit
Putaka A-Taqwa Bogor – Jawa Barat, Cet Ke II Dzul
Qa’dah 1427H/Desember 2006]
__________
Foote Note
[1]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no.
5142) dan Muslim (no. 1412), dari Shahabat Ibnu ‘Umar
radhiyallaahu ‘anhuma. Lafazh ini milik al-Bukhari.
[2]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (III/334,
360), Abu Dawud (no. 2082) dan al-Hakim (II/165), dari
Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma.
[3]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no.
1087), an-Nasa-i (VI/69-70), ad-Darimi (II/134) dan
lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani
rahimahullaah dalam Shahiih Sunan Ibni Majah (no.
1511).
[4]. Lihat pembahasan masalah ini dalam Syarhus
Sunnah (IX/17) oleh Imam al-Baghawi, Syarh Muslim
(IX/210) oleh Imam an-Nawawi, Silsilah al-Ahaadiits
ash-Shahiihah (I/97-208, no. 95-98) oleh Syaikh al-
Albani, al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah
(V/34-36) oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah
dan Fiqhun Nazhar (hal. 82-89).
[5]. Hadits hasan lighairihi: Diriwayatkan oleh at-
Tirmidzi (no. 1085). Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-
Shahiihah (no. 1022).
[6]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no.
5122) dan an-Nasa-i (VI/77-78). Lihat Shahiih Sunan an-
Nasa-i (no. 3047).
[7]. Al-Insyiraah fii Aadabin Nikaah (hal. 22-23) oleh
Syaikh Abu Ishaq al-Khuwaini, Jaami’ Ahkaamin
Nisaa(III/216) oleh Musthafa al-‘Adawi dan Adabul
Khithbah waz Zifaaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal.
21-22) oleh ‘Amr ‘Abdul Mun’im Salim.
[8]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no.
1162), Abu Dawud (no. 1538), at-Tirmidzi (no. 480), an-
Nasa-i (VI/80), Ibnu Majah (no. 1383), Ahmad (III/334),
al-Baihaqi (III/52) dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah
radhiyallaahu ‘anhuma.
[9]. Yaitu mushalla tempat shalat di rumahnya.
[10]. Yaitu surat al-Ahzaab ayat 37. Allah telah
menikahkan Nabi shallal-laahu ‘alaihi wa sallam dengan
Zainab binti Jahsyi melalui ayat ini.
[11]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1428
(89)), an-Nasa-i (VI/79), dari Shahabat Anas
radhiyallaahu ‘anhu.
[12]. Jaami’ Ahkaamin Nisaa’ (III/218-222).

Dikirim pada 13 April 2015 di Hikmah


Bismillahirrahman nirrahiim….
Ini merupakan pengalaman pribadi penulis saat
terserang flu berat. Ketika saya telah selesai
melaksanakan shalat di sebuah Masjid, dan saya
mengeluhkan terkena flu berat. Akibat flu berat
tersebut mata jadi panas, kepala pusing, hidung
mampet, dahak banyak dan otomatis semua aktifitas
terganggu – tidak konsentrasi.
Keluhan yang saya sampaikan kepada jamaah,
rupanya mendapat perhatian dari salah satu jamaah.
Seseorang tersebut menjelaskan pengalaman
pribadinya. Saya dengan seksama memperhatikan apa
yang disampaikan oleh seorang jamaah tersebut.
Rupanya seorang jamaah tersebut sudah sering
terserang flu berat dan Alhamdulillah selama ini bisa
diatasi. Ia mulai memberikan penjelasannya kepada
saya. Obat yang disampaikan tersebut, ternyata bukan
obat melainkan ‘air’.
Berdasarkan penjelasannya, dan karena saya sudah
tidak sanggup lagi menderita flu, akhirnya saya coba
tips yang diberikan, walaupun rasanya agak berat.
Alhamdulilah kira-kira 2 (dua) hari berikutnya flu saya
jadi hilang dan sampai sekarang Alhamdulillah tidak
pernah lagi menderita flu berat.
TIPS :
Ambil air masukkan pelan-pelan ke dalam hidung
dengan cara dihirup. Usahakan air dari hidung bisa
masuk ke mulut hingga terasa air panas yang mengalir
di dalam mulut. Tahap pertama coba sekali dulu,
awalnya akan terasa perih di hidung. Tak lama
kemudian maka lendir yang ada di dalam hidung serta
dahak akan keluar.
Setengah jam atau satu jam kemudian di coba lagi,
agar seluruh lendir yang ada keluar. Yang penting
kita merasakan air itu mengalir dari hidung terus ke
mulut dan jangan ragu-ragu. Kita cuma berusaha Allah
yang menyembuhkannya…………………
Insya Allah, jika dipraktekkan berarti kita ‘mengatasi
masalah tanpa masalah.’ Sebab kata orang berilmu,
obat yang kita masukkan ke dalam tubuh itu
sebenarnya adalah racun. Maksudnya untuk
membunuh penyakit, penyakitnya belum tentu sembuh
justru menambah dan menimbulkan penyakit yang
baru.
Selamat mencoba……….. Wallahu’alam.

Dikirim pada 06 April 2015 di Kesehatan


TIPS DAN DOA AGAR DAPAT JODOH
Ikhtiar untuk menemukan jodoh anda? Khusus, hanya
untuk yang siap nikah tidak pakai pacaran.
Siapakah jodoh kita, kapan waktunya tiba, di mana akan
dipertemukan, apakah ia benar-benar orang shaleh/
shalehah?. Semua itu rahasia Allah SWT.
Allah SWT menetapkan tiga bentuk taqdir dalam masalah
jodoh. Pertama, cepat mendapatkan jodoh. Kedua,
lambat mendapatkan jodoh, tapi suatu ketika pasti
mendapatkannya di dunia. Ketiga, menunda
mendapatkan jodoh sampai di akhirat kelak. Apapun
pilihan jodoh yang ditentukan Allah adalah hal terbaik
untuk kita. Allah SWT berfirman: “Boleh jadi kamu
membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan
boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia
amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu
tidak mengetahuiâ€‌ (QS. Al Baqarah: 216).
Kita harus terikat aturan Allah. Kita juga dibekali akal
untuk memahami aturan-Nya.

Ketika kita memutuskan
untuk taat atau melanggar aturanNya adalah pilihan kita
sendiri. Bagaimana cara kita untuk mendapatkan jodoh
adalah pilihan kita. Dengan jalan yang diridhoiNya atau
tidak. Tetapi hasil akhirnya Allah yang menentukan.
Berikut ini ada beberapa tips agar cepat mendapatkan
jodoh bagi anda yang sampai saat ini belum
mendapatkan jodoh untuk menikah:


1. Tentukan terlebih dahulu kriteria pasangan ideal
Nabi bersabda: â€‌Apabila datang kepada kalian lelaki
yang kalian ridhai agama dan akhlaknya,maka
nikahkanlah ia (dengan puteri kalian). Sebab jika tidak,
maka akan terjadi fitnah dibumi dan kerusakan yang
besarâ€‌. "Lelaki yang bertaqwa akan mencintai dan
memuliakan istrinya. Jika ia marah tidak akan
menzhalimi istrinya. Kaum jahiliyah menikah dengan
melihat kedudukan, kaum Yahudi menikah dengan
melihat harta, kaum Nasrani menikah dengan melihat
rupa, sedangkan umat Islam menikahkan dengan melihat
agama".
Nabi bersabda:"Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah
perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita
(isteri) yang sholehahâ€‌. Beliau juga bersabda, â€‌Wanita
dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta
kekayaannya, karena kedudukannya, karena
kecantikannya, dan karena agamanya. Hendaknya
pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu.â€‌
Sulit mencari jodoh bisa jadi karena kriteria terlalu
muluk. Janganlah kita menginginkan kesempurnaan
orang lain, padahal diri kita tidak sempurna.


2. Memperluas Pergaulan Sesuai Syariat
Seringlah bersilaturrahim ke tempat saudara atau
mengikuti majelis ta`lim. Ustadz, teman, orang tua,
saudara, keluarga, dan yang lain Insyaallah pasti bisa
diminta bantuan.


3. Sebisa mungkin hindari berpacaran
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya
zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu
jalan yang buruk.â€‌ (QS. Al Israa’: 32). Kita dilarang
berkhalwat, memandang lawan jenis dengan syahwat,
wanita bepergian sehari semalam tanpa muhrim, dll.
Biasanya, orang pacaran selalu menutupi kekurangannya
dan menampilkan yang baik-baik saja. Cari informasi
dari orang dekatnya (saudara, teman, tetangganya).
Perlu juga penilaian dari orang tua dan keluarga kita.
Biasanya kita tidak dapat melihat kekurangan orang yang
kita cintai.


4. Perbanyak introspeksi diri
Jika kita ingin mendapatkan jodoh yang shaleh, maka
kita harus menjadi orang yang shaleh juga. Allah SWT
berfirman: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-
laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat
wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang
baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang
baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula}â€‌ (QS.
An Nuur: 26).
Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah SWT
tidak melihat pada bentuk-bentuk (lahiriah) dan harta
kekayaanmu, tapi Dia melihat pada hati dan amalmu
sekalian. " (HR. Muslim, Hadits no. 2564 dari Abu
Hurairah). Jadi, lelaki atau wanita yang baik menurut
pandangan Allah itu adalah lelaki atau wanita yang baik
iman dan amalnya.
Secara lahiriah kita perlu menjaga kebersihan, kerapihan
dan menjaga bau badan. Bukan berdandan berlebihan
(tidak Islami), tapi tampil menarik.


5. Jangan Mencintai Secara Berlebihan
“Barangsiapa memberi karena Allah, menolak karena
Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah,
dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya.
(HR. Abu Dawud)
Jika kita mencintai manusia lebih daripada Allah,
niscaya hati kita akan hancur dan putus asa jika
ditinggalkan. Jika kita mencintai Allah di atas segalanya,
niscaya kita akan selalu tegar dan tabah karena kita
yakin bahwa Allah itu Maha Hidup dan Abadi serta
selalu bersama hamba yang Sholeh.


6. Jika Gagal Berusaha Lagi
Jika kita gagal, jangan putus asa dan minder. Kita harus
sabar dan tetap berusaha mendapatkan yang lebih baik
lagi. Yakinlah ada yang lebih baik yang sedang
dipersiapkan Allah untuk kita.
Para sahabat besarpun mengalaminya. Contohnya
Utsman RA yang melamar putri Abu Bakar ditolak, lalu
melamar putri Umar juga ditolak, akhirnya malah menjadi
menantu Rasulullah SAW.
Jodoh tidak akan lari dan akan datang pada waktunya.
Bersabarlah dan sibukkan diri dengan amal sholeh.
Hadapilah dengan sikap tenang, santai, tidak mudah
emosi/sensitif, tidak larut dalam kesedihan, tidak
berputus asa dan tetap bersemangat.
Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan
kondisi seorang mukmin. Segala keadaan dianggapnya
baik, dan hal ini tidak akan terjadi, kecuali bagi seorang
mukmin. Apabila mendapat kesenangan ia bersyukur,
maka itu tetap baik baginya dan apabila ditimpa
penderitaan ia bersabar maka itu tetap baik
baginya.â€‌ (HR Muslim)
Gunakan energi kita untuk lebih mendekatkan diri dan
mencintai Allah SWT., orang tua, dan umat. Yakinlah
dengan keadilan-Nya bahwa setiap manusia pasti
memiliki jodoh masing-masing. Yakinlah bahwa semua
kondisi adalah baik, berguna, dan berpahala bagi kita.


7. Siap menerima taqdir Allah
Hidup adalah ujian. Bisa saja, takdir jodoh kita bukan
orang shaleh. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang
yang beriman. Sesungguhnya di antara pasanganmu dan
anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-
hatilah kamu terhadap mereka… Sesungguhnya hartamu
dan anakmu, hanyalah ujian bagimu, dan di sisi Allah
pahala yang besar.â€‌ (Q.S. At-Taghaabuun: 14-15)
Hal tersebut tetap bisa menjadi kebaikan apabila
dijadikan sebagai lahan amal shaleh dan batu ujian
untuk meningkatkan keimanan, tawakal, dan kesabaran.


8. Wanita bisa melamar lelaki
Bukan hal yang dilarang jika wanita menemukan lelaki
sholeh dan berinisiatif menawarkan diri dalam
pernikahan melalui peran orang yang dipercaya. Khadijah
RA melalui pamannya melamar Nabi Muhammad SAW
setelah mengetahui akhlak dan agama beliau.


9. Taqarrub Ilallah
Perburuan jodoh secara syar’i adalah dengan mendekati
Allah super ekstra. Caranya dengan bertawasul amal-
amal shaleh, tidak hanya ibadah wajib (berbakti kepada
orangtua, sholat wajib), juga ibadah sunnah (shoum
sunnah, sholat tahajjud/ taubat/ istikhoroh/ hajat/ witir/
d huha, tilawah Al Qur’an, istighfar, infaq, dan lain-lain).
Semakin dekat dengan Allah, iman bertambah dan do’a
kita semakin terkabul. Usaha yang konsisten, optimis
dan prasangka baik akan memudahkan jalan kita.


10. Tidak putus asa dan selalu berdoa
Bacalah doa: “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada
kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai
penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi
orang-orang yang bertakwaâ€‌. (QS. Al Furqon: 74).
Doa lebih terkabul pada tempat mustajab, waktu
mustajab dan memperhatikan adab berdoa. Berdoalah
menurut apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya.
Tempat mustajab: masjid, majlis ta’lim, Arafah, Hajar
Aswad, Hijr Ismail, di atas sajadah, dll.


Waktu mustajab seperti sepertiga malam yang akhir,
selesai sholat wajib/tahajjud/hajat, saat sujud/I`tidal
terakhir dalam sholat, sedang berpuasa, berbuka puasa,
dalam perjalanan, selesai khatam qur`an, hari Jum`at,
baru mulai hujan, diantara azan dan iqamat, ketika
minum air zamzam, bulan ramadhan/lailatul qodar,
antara zuhur dan ashar juga antara ashar dan maghrib,
selesai sholat subuh, dalam kesulitan, sedang sakit,
sedang ada jenazah.
Adab berdoa seperti menjauhkan hal yang haram, ikhlas,
diawali dan diakhiri tahmid/sholawat, menghadap kiblat,
suci dari hadats dan najis, khusyu’ dan tenang,
menengadahkan kedua tangan, dengan suara rendah dan
pengharapan sepenuh hati, mengulangi berkali-kali,
tidak berputus asa, menghadirkan Allah dalam hati, tidak
meninggalkan sholat wajib, tidak melakukan dosa besar,
tidak minta sesuatu yang dilarang Allah, sambil
menangis.
Nabi Musa as berdoa setelah menolong dua perempuan
penggembala kambing: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku
sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau
turunkan kepadaku." (QS 28:24).

Allah SWT memahami
keperluan dan prioritasnya, sehingga tidak saja memberi
makanan, tapi juga memberi jodoh, tempat tinggal dan
pekerjaan. Wallahu’alam bishawab.
Doa bagi laki2 yang berharap jodoh :
“ROBBI HABLII MILLADUNKA ZAUJATAN THOYYIBAH
AKHTUBUHA WA ATAZAWWAJ BIHA WATAKUNA
SHOOHIBATAN LII FIDDIINI WADDUNYAA WAL
AAKHIROHâ€‌.
“Ya Robb, berikanlah kepadaku istri yang terbaik dari
sisi-Mu, istri yang aku lamar dan nikahi dan istri yang
menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia
dan akhiratâ€‌.
Doa bagi wanita yang berharap jodoh :
“ROBBI HABLII MILLADUNKA ZAUJAN THOYYIBAN
WAYAKUUNA SHOOHIBAN LII FIDDIINI WADDUNYAA WAL
AAKHIROHâ€‌.
“Ya Robb, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari
sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam
urusan agama, urusan dunia & akhiratâ€‌
“ALLOHUMMAB’ATS BA’LAN SHOOLIHAN LIKHITHBATHII
WA’ATTHIF QOLBAHU â€ALAYYA BIHAQQI KALAAMIKAL
QODIIMI WABIROSUULIKAL KARIIMI BI ALFI ALFI LAA
HAWLA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL â€ALIYYIL
â€AZHIIM WA SHOLLALLOOHU â€ALAA SAYYIDINAA
MUHAMMADIN WA’ALAA AALIHII WA SHOHBIHI WA
SALLAMA WALHAMDULILLAAHIROBBIL â€AALAMIIN.â€‌
Artinya dalam Bahasa Indonesia :
“ Tuhanku, utuslah seorang suami yang shalih untuk
melamarku, condongkanlah hatinya kepadaku berkat
kebenaran Kalam-Mu yang qadim dan berkat utusanMu
yang mulia dengan keberkahan sejuta ucapan LAA
HAWLA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL â€ALIYYIL
â€AZHIIM. Dan semoga Allah Melimpahkan Rahmat dan
salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad, dan
kepada segenap keluarga serta sahabatnya. Dan segala
puji bagi Allah Tuhan sekalian Alam.â€‌

Dikirim pada 21 Maret 2015 di Muhasabah


Seorang wanita cantik dan gaul mendekati seorang
lelaki sholeh yang belum menikah.
Dia penasaran kenapa lelaki tampan yang juga seorang
ustadz ini nggak tertarik sama dirinya.
Padahal puluhan lelaki mengejar-ngejar dirinya.
Akhirnya di sebuah kesempatan kajian keslaman, sang
wanita yang terpaksa memakai kerudung gaul itu
memberanikan diri bertanya pada sang lelaki ini yang
menjadi narasumber kajian tersebut
Wanita: "Ustadz muda yang tampan dan sholeh, apakah
dalam Islam ada yang namanya pacaran?"
Ustadz: "Maaf Mba, sebelumnya terimakasih sudah
mendoakan saya. Sejujurnya saya masih jauh untuk
dikatakan sholeh.
Segala puji itu hanya milik Allah yang Maha Mulia.
Memang dalam Al Qur’an surat Al-Isra ayat 32 Allah
menegaskan, "Dan janganlah kamu mendekati zina;
(zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan
yang buruk."
Nah, pacaran itu salah satu jalan mendekati zina"
Wanita: "Tapi bagaimana dong caranya kita kenal
dengan calon suami kita. Emangnya kita mau beli kucing
dalam karung?"
Ustadz: "Mba sepertinya orang cerdas. pasti bisa jawab
pertanyaan ini, Coba kalau seorang penjual ingin
dagangannya cepat laku.
Apa yang mesti dia lakukan?"
Wanita: (Mengernyitkan dahinya) "Mm.. kebetulan saya
dulu jurusan manajemen, saya coba jawab ya.
Jadi gini ibu-ibu, sang pedagang pasti akan berusaha
supaya si pembeli tertarik.
Iklannya harus menarik, packagingnya harus keren,
diskon besar, mm.. ya gitu deh.
Ih ustadz kok malah nanya balik?"
Ustadz: "Terimakasih Mba, tepat sekali jawabannya.
Itulah bedanya orang yang menikah dengan cara
pacaran dan cara taaruf yang disukai Allah".
Wanita: "Maksud Ustadz gimana sih?
Makin bingung deh! Iya kan jamaah?" (Sambil melihat
pada para jamaah)
Ustadz: "Saat seseorang berpikir bahwa pacaran bisa
membuat dirinya lebih mengenal calon pasangan
hidupnya.
Sebenarnya yang sedang dilakukan dirinya adalah
memperindah kemasan alias topeng dirinya supaya
calon pasangannya suka dengan dirinya.
Misalnya: kalau jalan berdua pasti pake baju paling
bagus, sisiran paling rapi, mobil kalau lelaki pake mobil
bagus walau modal pinjem, sampe nraktir walau pake
uang pinjaman kanan kiri. Wanitanya juga demikian, ia
akan berdandan bak artis, pake make up tebal biar si
pacar makin demen.
Nah apakah selama 2 tahun jalan berdua mereka sudah
mengenal 100 persen pasangannya?
Saat menikah ketahuan deh ternyata lelakinya gak
punya mobil, males-malesan, atau justru wanitanya
cantik hanya saat dimakeup, konsumtif, dan bau badan
misalnya.
Wajar, kalau akhirnya banyak terjadi pacaran 7 tahun,
cerai setelah 7 bulan nikah."
Wanita: "I.. iya juga sih Ustadz. Tapi bagaimana cara kita
mengenal calon pasangan kita?
Nikah kan sekali seumur hidup?"
Ustadz: "Inilah indahnya Islam Mba. Islam sangat
menjunjung tinggi nilai pernikahan.
Maka untuk masa pengenalan ada namanya taaruf.
Dalam jangka waktu itu setiap pasangan diperkenankan
mencari tahu selengkap mungkin tentang kepribadian,
kesehatan juga latar belakang keluarga calon.
Tentunya dengan tidak berdua-duaan, sms mesra, atau
kegiatan yang mendekati zina lainnya.
Kalau memang ada kepentingan bisa sms sekedarnya
atau lewat perantara saudara.
Saat ada yang mau didiskusikan untuk ke jenjang
pernikahan harus ditemani mahromnya. Biar tidak terjadi
fitnah".
Wanita: "Ribet banget sih.. Mau nikah aja sulit banget!
"
Ustadz: "Lebih sulit lagi kalau orang tua membiarkan
anak wanitanya jalan berdua dengan calon yang belum
pasti menikahinya.
Namun yang sudah pasti bermaksiat dengannya. Berapa
banyak yang pulang hilang kehormatannya.
Lalu dijauhi begitu saja oleh sang lelaki saat sudah
menikmati manisnya?
Disinilah Islam menjaga harga diri dan kehormatan
wanita."
Wanita: (Mulai paham, dan merasa dirinya kotor)
"Ustadz, tapi apakah seorang wanita yang banyak dosa
dan masa lalunya kelam bisa dapatkan suami yang
soleh?"
Ustadz: Jangan takut Mba, ampunan Allah begitu besar.
InsyaAllah jika kita terus mensucikan diri maka Allah
akan memberikan jodoh terbaik bagi diri kita.
InsyaAllah"
Wanita: "Terimakasih Ustadz. Doakan agar saya dan
para wanita lainnya bisa bertaubat dan menjadi sebaik-
baik wanita yang dicintai Allah dan mendapatkan jodoh
lelaki sholeh seperti Ustadz."
Ustadz: "Aamiin. Barokallahufiik um"
Semoga Bermanfaat

Dikirim pada 15 Maret 2015 di Kisah-kisah


Setelah Allah s.w.t.menciptakan bumi dengan gunung-gunungnya, laut-lautannya dan tumbuh - tumbuhannya, menciptakan langit dengan mataharinya, bulan dan bintang-bintangnya yang bergemerlapan menciptakan malaikat-malaikatnya ialah sejenis makhluk halus yangdiciptakan untuk beribadah menjadi perantara antara Zat Yang Maha Kuasa dengan hamba-hamba terutama para rasul dan nabinya maka tibalah kehendak Allah s.w.t. untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi memeliharanya menikmati tumbuh-tumbuhannya,mengelola kekayaan yang terpendam di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya.
Kekhawatiran Para Malaikat.
Para malaikat ketika diberitahukan oleh Allah s.w.t. akan kehendak-Nya menciptakan makhluk lain itu, mereka khuatir kalau-kalau kehendak Allah menciptakan makhluk yang lain itu,disebabkan kecuaian atau kelalaian mereka dalam ibadah dan menjalankan tugas atau karena pelanggaran yang mereka lakukan tanpa disadari. Berkata mereka kepada Allah s.w.t.: "Wahai Tuhan kami! Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami,padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya,sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu,nescaya akan bertengkar satu dengan lain,akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat diatasnya dan terpendam di dalamnya,sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu."
Allah berfirman, menghilangkan kekhuatiran para malaikat itu:
"Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku.Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepada nya,bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah,karena Allah s.w.t. melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama makhluk-Nya."
Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah s.w.t.dari segumpal tanah liat,kering dan lumpur hitam yang berbentuk.Setelah disempurnakan bentuknya ditiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna.
Iblis Membangkang.
Iblis membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah seperti para malaikat yang lain,yang segera bersujud di hadapan Adam sebagai penghormatan bagi makhluk Allah yang akan diberi amanat menguasai bumi dengan segala apa yang hidup dan tumbuh di atasnya serta yang terpendam di dalamnya.Iblis merasa dirinya lebih mulia,lebih utama dan lebih agung dari Adam,karena ia diciptakan dari unsur api,sedang Adam dari tanah dan lumpur.Kebanggaannya dengan asal usulnya menjadikan ia sombong dan merasa rendah untuk bersujud menghormati Adam seperti para malaikat yang lain,walaupun diperintah oleh Allah.
Tuhan bertanya kepada Iblis:"Apakah yang mencegahmu sujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku?"
Iblis menjawab:"Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia.Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakannya dari lumpur."
Karena kesombongan,kecongkakan dan pembangkangannya melakukan sujud yang diperintahkan,maka Allah menghukum Iblis dengan mengusir dari syurga dan mengeluarkannya dari barisan malaikat dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pd.dirinya hingga hari kiamat.Di samping itu ia dinyatakan sebagai penghuni neraka.
Iblis dengan sombongnya menerima dengan baik hukuman Tuhan itu dan ia hanya mohon agar kepadanya diberi kesempatan untuk hidup kekal hingga hari kebangkitan kembali di hari kiamat.Allah meluluskan permohonannya dan ditangguhkanlah ia sampai hari kebangkitan,tidak berterima kasih dan bersyukur atas pemberian jaminan itu,bahkan sebaliknya ia mengancam akan menyesatkan Adam,sebagai sebab terusirnya dia dari syurga dan dikeluarkannya dari barisan malaikat,dan akan mendatangi anak-anak keturunannya dari segala sudut untuk memujuk mereka meninggalkan jalan yang lurus dan bersamanya menempuh jalan yang sesat,mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal yang terlarang,menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama dan mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan beramal soleh.
Kemudian Allah berfirman kepada Iblis yang terkutuk itu:
"Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi isi neraka Jahanam dan bahan bakar neraka.Engkau tidak akan berdaya menyesatkan hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada Ku dengan sepenuh hatinya dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan tergoyah oleh rayuanmu walaupun engkau menggunakan segala kepandaianmu menghasut dan memfitnah."
Pengetahuan Adam Tentang Nama-Nama Benda.
Allah hendak menghilangkan anggapan rendah para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmat-Nya menunjuk Adam sebagai penguasa bumi,maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang berada di alam semesta,kemudian diperagakanlah benda-benda itu di depan para malaikat seraya:"Cubalah sebutkan bagi-Ku nama benda-benda itu,jika kamu benar merasa lebih mengetahui dan lebih mengerti dari Adam."
Para malaikat tidak berdaya memenuhi tentangan Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka.Mereka mengakui ketidak-sanggupan mereka dengan berkata:"Maha Agung Engkau! Sesungguhnya kami tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu kecuali apa yang Tuhan ajakan kepada kami.Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana."
Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama itu kepada para malaikat dan setelah diberitahukan oleh Adam,berfirmanlah Allah kepada mereka:"Bukankah Aku telah katakan padamu bahawa Aku mengetahui rahsia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan."
Adam Menghuni Syurga.
Adam diberi tempat oleh Allah di syurga dan baginya diciptakanlah Hawa untuk mendampinginya dan menjadi teman hidupnya,menghilangkan rasa kesepiannya dan melengkapi keperluan fitrahnya untuk mengembangkan keturunan. Menurut cerita para ulamat Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam yang disebelah kiri diwaktu ia masih tidur sehingga ketika ia terjaga,ia melihat Hawa sudah berada di sampingnya.ia ditanya oleh malaikat:"Wahai Adam! Apa dan siapakah makhluk yang berada di sampingmu itu?"
Berkatalah Adam:"Seorang perempuan."Sesuai dengan fitrah yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya."Siapa namanya?"tanya malaikat lagi."Hawa",jawab Adam."Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk ini?",tanya malaikat lagi.
Adam menjawab:"Untuk mendampingiku,memberi kebahagian bagiku dan mengisi keperluan hidupku sesuai dengan kehendak Allah."
Allah berpesan kepada Adam:"Tinggallah engkau bersama isterimu di syurga,rasakanlah kenikmatan yang berlimpah-limpah didalamnya,rasailah dan makanlah buah-buahan yang lazat yang terdapat di dalamnya sepuas hatimu dan sekehendak nasfumu.Kamu tidak akan mengalami atau merasa lapar,dahaga ataupun letih selama kamu berada di dalamnya.Akan tetapi Aku ingatkan janganlah makan buah dari pohon ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zalim.Ketahuilah bahawa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh isterimu,ia akan berusaha membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari syurga sehingga hilanglah kebahagiaan yang kamu sedang nikmat ini."
Iblis Mulai Beraksi.
Sesuai dengan ancaman yang diucapkan ketika diusir oleh allah dari Syurga akibat pembangkangannya dan terdorong pula oleh rasa iri hati dan dengki terhadap Adam yang menjadi sebab sampai ia terkutuk dan terlaknat selama-lamanya tersingkir dari singgahsana kebesarannya.Iblis mulai menunjukkan rancangan penyesatannya kepada Adam dan Hawa yang sedang hidup berdua di syurga yang tenteram, damai dan bahagia.
Ia menyatakan kepada mereka bahawa ia adalah kawan mereka dan ingin memberi nasihat dan petunjuk untuk kebaikan dan mengekalkan kebahagiaan mereka.Segala cara dan kata-kata halus digunakan oleh Iblis untuk mendapatkan kepercayaan Adam dan Hawa bahawa ia betul-betul jujur dalam nasihat dan petunjuknya kepada mereka.Ia membisikan kepada mereka bahwa.larangan Tuhan kepada mereka memakan buah-buah yang ditunjuk itu adalah karena dengan memakan buah itu mereka akan menjelma menjadi malaikat dan akan hidup kekal.Diulang-ulangilah bujukannya dengan menunjukkan akan harumnya bau pohon yang dilarang indah bentuk buahnya dan lazat rasanya.Sehingga pada akhirnya termakanlah bujukan yang halus itu oleh Adam dan Hawa dan dilanggarlah larangan Tuhan.
Allah mencela perbuatan mereka itu dan berfirman yang bermaksud: "Tidakkah Aku mencegah kamu mendekati pohon itu dan memakan dari buahnya dan tidakkah Aku telah ingatkan kamu bahawa syaitan itu adalah musuhmu yang nyata."
Adam dan Hawa mendengar firman Allah itu sedarlah ia bahawa mereka telah terlanggar perintah Allah dan bahawa mereka telah melakukan suatu kesalahan dan dosa besar.Seraya menyesal berkatalah mereka:"Wahai Tuhan kami! Kami telah menganiaya diri kami sendiri dan telah melanggar perintah-Mu karena terkena bujukan Iblis.Ampunilah dosa kami karena nescaya kami akan tergolong orang-orang yang rugi bila Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami."
Adam dan Hawa Diturunkan Ke Bumi.
Allah telah menerima taubat Adam dan Hawa serta mengampuni perbuatan pelanggaran yang mereka telah lakukan hal mana telah melegakan dada mereka dan menghilangkan rasa sedih akibat kelalaian peringatan Tuhan tentang Iblis sehingga terjerumus menjadi mangsa bujukan dan rayuannya yang manis namun berancun itu.
Adam dan Hawa merasa tenteram kembali setelah menerima pengampunan Allah dan selanjutnya akan menjaga jangan sampai tertipu lagi oleh Iblis dan akan berusaha agar pelanggaran yang telah dilakukan dan menimbulkan murka dan teguran Tuhan itu menjadi pengajaran bagi mereka berdua untuk lebih berhati-hati menghadapi tipu daya dan bujukan Iblis yang terlaknat itu.Harapan untuk tinggal terus di syurga yang telah pudar karena perbuatan pelanggaran perintah Allah,hidup kembali dalam hati dan fikiran Adam dan Hawa yang merasa kenikmatan dan kebahagiaan hidup mereka di syurga tidak akan terganggu oleh sesuatu dan bahawa redha Allah serta rahmatnya akan tetap melimpah di atas mereka untuk selama-lamanya.Akan tetapi Allah telah menentukan dalam takdir-Nya apa yang tidak terlintas dalam hati dan tidak terfikirkan oleh mereka. Allah s.w.t.yang telah menentukan dalam takdir-nya bahawa bumi yang penuh dengan kekayaan untuk dikelolanya,akan dikuasai kepada manusia keturunan Adam memerintahkan Adam dan Hawa turun ke bumi sebagai benih pertama dari hamba-hambanya yang bernama manusia itu.Berfirmanlah Allah kepada mereka:"Turunlah kamu ke bumi sebagian daripada kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain kamu dapat tinggal tetap dan hidup disan sampai waktu yang telah ditentukan."
Turunlah Adam dan Hawa ke bumi menghadapi cara hidup baru yang jauh berlainan dengan hidup di syurga yang pernah dialami dan yang tidak akan berulang kembali.Mereka harus menempuh hidup di dunia yang fana ini dengan suka dan dukanya dan akan menurunkan umat manusia yang beraneka ragam sifat dan tabiatnya berbeda-beda warna kulit dan kecerdasan otaknya.Umat manusia yang akan berkelompok-kelompok menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa di mana yang satu menjadi musuh yang lain saling bunuh-membunuh aniaya-menganianya dan tindas-menindas sehingga dari waktu ke waktu Allah mengutus nabi-nabi-Nya dan rasul-rasul-Nya memimpin hamba-hamba-Nya ke jalan yang lurus penuh damai kasih sayang di antara sesama manusia jalan yang menuju kepada redha-Nya dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.
Kisah Adam dalam Al-Quran.
Al_Quran menceritakan kisah Adam dalam beberapa surah di antaranya surah Al_Baqarah ayat 30 sehingga ayat 38 dan surah Al_A`raaf ayat 11 sehingga 25
Pengajaran Yang Terdapat Dari Kisah Adam.
Bahawasanya hikmah yang terkandung dalam perintah-perintah dan larangan-larangan Allah dan dalam apa yang diciptakannya kadangkala tidak atau belum dapat dicapai oelh otak manusia bahkan oleh makhluk-Nya yang terdekat sebagaimana telah dialami oleh para malaikat tatkala diberitahu bahawa Allah akan menciptakan manusia - keturunan Adam untuk menjadi khalifah-Nya di bumi sehingga mereka seakan-akan berkeberatan dan bertanya-tanya mengapa dan untuk apa Allah menciptakan jenis makhluk lain daripada mereka yang sudah patuh rajin beribadat, bertasbih, bertahmid dan mengagungkan nama-Nya.
Bahawasanya manusia walaupun ia telah dikurniakan kecergasan berfikir dan kekuatan fizikal dan mental ia tetap mempunyai beberapa kelemahan pada dirinya seperti sifat lalai, lupa dan khilaf. Hal mana telah terjadi pada diri Nabi Adam yang walaupun ia telah menjadi manusia yang sempurna dan dikurniakan kedudukan yang istimewa di syurga ia tetap tidak terhindar dari sifat-sifat manusia yang lemah itu.Ia telah lupa dan melalaikan peringatan Allah kepadanya tentang pohon terlarang dan tentang Iblis yang menjadi musuhnya dan musuh seluruh keturunannya, sehingga terperangkap ke dalam tipu daya dan terjadilah pelanggaran pertama yang dilakukan oleh manusia terhadap larangan Allah.
Bahawasanya seseorang yang telah terlanjur melakukan maksiat dan berbuat dosa tidaklah ia sepatutnya berputus asa dari rahmat dan ampunan Tuhan asalkan ia sedar akan kesalahannya dan bertaubat tidak akan melakukannya kembali.Rahmat allah dan maghfirah-Nya dpt mencakup segala dosa yang diperbuat oleh hamba-Nya kecuali syirik bagaimana pun besar dosa itu asalkan diikuti dengan kesedaran bertaubat dan pengakuan kesalahan.
Sifat sombong dan congkak selalu membawa akibat kerugian dan kebinasaan.Lihatlah Iblis yang turun dari singgahsananya dilucutkan kedudukannya sebagai seorang malaikat dan diusir oleh Allah dari syurga dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat kepada dirinya hingga hari Kiamat karena kesombongannya dan kebanggaaannya dengan asal-usulnya sehingga ia menganggap dan memandang rendah kepada Nabi Adam dan menolak untuk sujud menghormatinya walaupun diperintahkan oleh Allah s.w.t.

Sumber : Kisah 25 Nabi

Dikirim pada 01 Juli 2014 di Kisah-kisah



Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Catatan pertama,
Ketika walikota surabaya, Ibu Tri Rismaharani mendeklarasikan penutupan kampung zina terbesar di Indonesia, ribuan pasukan iblis pembela maksiat berusaha menghadang dengan berbagai makarnya. Anehnya, mereka tidak segan meminjam istilah islam sebagai nama kegiatan mereka, mulai dari pengajian akbar Pro Rakyat bersama Gus Gendheng, hingga Istighatsah kubro menolak penutupan lokalisasi. Penutupan lokalisasi tidak sejalan dengan prikemanusiaan.
Dari mana mereka bisa menggunakan istilah itu?
Tidak lain adalah wahyu iblis. Dia membisikkan kepada bala tentaranya berbagai alasan dan dalil untuk melestarikan kemaksiatan.
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan dari jenis manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (QS. Al-An’am: 112)
Kenyataan ini memberi pelajaran bagi kita, apapun bentuk kejahatan, kemaksiatan, dan kesesatan, semuanya memiliki dalil dan alasan.
Ketika Iblis menolak untuk tunduk terhadap perintah Allah untuk sujud kepada ‎Adam, dia menggunakan dalil. Dalil yang digunakan iblis adalah dalil qiyas.,
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ‏
Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu ‎aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Saya lebih baik dari pada dia, Engkau ciptakan saya ‎dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raf: 12)‎
Di ayat lain, Allah berfirman,‎
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ قَالَ أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا
Ingatlah, tatkala Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada ‎Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: “Apakah aku akan sujud kepada ‎orang yang Engkau ciptakan dari tanah?” (QS. Al-Isra: 61)‎
Menurut iblis, api lebih mulia dari pada tanah. Dengan logika ini, dia beralasan, makhluk ‎yang lebih baik asal penciptaannya, tidak selayaknya memberikan hormat kepada ‎makhluk yang lebih rendah asal penciptaannya.
Semata berdalil, bukan jaminan itu benar. Namun perlu juga ditimbang dengan ‎keshahihan cara berdalil. Kenyataan ini menuntut kita untuk semakin cerdas memahami dalam memahami dalil.
Catatan kedua,
Kita yakin, para tokoh agama setempat tentu telah mengingatkan bahaya zina dan dampak buruk dosa zina. Karena hukum al-Quran yang berbicara masalah ini sudah sangat jelas.
Tapi mengapa penjelasan kiyai tentang hukum al-Quran tidak bisa mencegah mereka?
Tentu bukan kiyainya yang salah. Para kiyai telah menyampaikan peringatan kepada mereka.
Namun seperti inilah manusia. Banyak orang yang mereka tidak bisa dihentikan untuk maksiat dengan penjelasan al-Quran. Dan ketika itulah, Allah menunjuk penguasa untuk mencegah mereka.
Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
إن الله يزع بالسلطان ما لا يزع بالقرآن
Sesungguhnya Allah mencegah maksiat dengan kekuasaan, yang tidak bisa dicegah dengan dakwah al-Quran. (Simak Tarikh al-Madinah, Ibnu Syabbah an-Numairi, 3/988).
Kita patut bersyukur, ketika Allah memberikan pemimpin yang berpihak terhadap kebenaran, mengawal langkah setahap terwujudnya aturan syariat.
Catatan ketiga,
Tempat lokalisasi terbesar di Indonesia itu telah bertahan 100 tahunan di tengah kerumunan masyarakat pengagung para wali. Kita yakin kesehariannya mereka adzan dan suara dzikiran di masjid. Dan tidak lupa, para kyai setempat pasti sudah sering mengingatkan bahaya zina.
Namun ketika amar makruf nahi munkar tidak ditegakkan secara penuh, di saat itulah kebatilan akan terus bertahan dan terus berdikari.
Di sinilah fungsi besar pihak yang berwenang sangat dibutuhkan, karena keterlibatan mereka dalam amar makruf nahi munkar, memberikan peran penting terhadap pendidikan masyarakat.
Seorang ulama menasehatkan,
الامر بالمعروف والنهي عن المنكر سفينة النجاة
Amar makruf nahi munkar adalah perahu keselamatan.
Keberadaan orang soleh tidak ada artinya ketika mereka hanya diam di hadapan kemaksiatan.
Ummu Salamah pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
يَا رَسُولَ اللهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟
“Ya Rasulullah, apakah kita akan binasa sementara banyak orang soleh di tengah kita?”
Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ
”Ya, jika maksiat merajalela.” (HR. Muslim 2880).
Siapa yang kuat, dia yang berkuasa. Orang baik namun lemah, hanya akan ditindas mereka yang jahat. Di saat itulah kemaksiatan menjadi pemenang.
Orang baik yang kuat, akan membuat kerdil ahli maksiat. Di saat itulah, kebenaran akan menjadi pemenang.
Dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji kedisplinan Umar dalam amar ma’ruf nahi munkar, hingga setanpun takut kepadanya.
يَا ابْنَ الخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا قَطُّ، إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ
”Hai Umar bin Khatab, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika ada setan yang memergokikamu di satu jalan, maka dia akan mencari jalan yang lain selain jalan yang kamu lewati.” (HR. Bukhari 3683).
Selama kita mampu melakukan amar ma’ruf nahi munkar, jangan ditunda, sebelum ahli maksiat menjajah.
Allahu a’lam.

Sumber: konsultasi_syariah

Dikirim pada 19 Juni 2014 di Hikmah


Assalamualaikum wr.wb.
“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”(Al-Mu’minun : 12-14)
Dari ayat tersebut kita bisa mengetahui bahwa sesungguhnya kita manusia diciptakan dari sesuatu yang hina, akan tetapi kebanyakan manusia tidak menyadarinya. Jikalah kita mengkaji ayat tersebut lebih dalam lagi, kita bisa melihat bahwa manusia diciptakan dari sesuatu yang hina lalu dibentuk menjadi sesuatu yang sempurna. Pernahkah kita berfikir apa yang membuat manusia itu bisa menjadi makhluk yang mulia dan sempurna di hadapan sang pencipta? Yang bisa membuat manusia menjadi Makhluk yang mulia dan sempurna di hadapan sang pencuipta adalah akal yang di miliki manusia. Perbedaan Manusia dengan Hewan ada pada akalnya, manusia diberikan akal oleh sang pencipta untuk bisa membedakan yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Manusia bisa disebut sebagai manusia apabila mau menggunakan akalnya, manusia yang tidak menggunakan akalnya malah menjadikan hawa nafsu sebagai landasan berbuat seperti dalam QS. Al-A’raaf : 176 yang berbunyi sebagai berikut :
“Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. Al-A’raaf :176)
Dalam ayat diatas manusia hendak dijadikan tinggi derajatnya tetapi manusia malah cenderung kepada hawa nafsu yang rendah, dan apabila manusia seperti itu maka tidak berbeda manusia tersebut dengan seekor anjing. Oleh karena itu jika manusia ingin derajatnya tinggi disisi sang pencipta maka menggunakan akal adalah sangat mutlak adanya, karena itu adalah titik pembeda antara manusia dengan hewan, jadi kita harus sadar bahwa kita adalah manusia bukanlah hewan yang berbuat berlandaskan hawa nafsunya yang rendah.
Salah satu hal yang penting untuk difikirkan oleh manusia adalah bagaimana adanya alam semesta ini, bagaimana bisa alam semesta ini ada begitu saja, dan bagaimana bisa kita ada dengan begitu saja tanpa ada yang menciptakan. Dan tidak akan mungkin alam semesta yang sebesar ini tidak ada yang mengaturnya. Seperti dalam QS. Ibrahim : 33 yang berbunyi sebagai berikut :
“Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” QS. (Ibrahim : 33)
Dari ayat diatas jelas bahwa Alam Semesta ini ada yang mengaturnya dan tidak berjalan sendiri. Lalu siapakah yang mengatur semua ini dan siapakah yang menciptkannya? Yang menciptakan manusia dan Alam Semesta adalah Alloh, seperti dalam QS. Al-A’raaf : 54 yang berbunyi :
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raaf : 54)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Alloh yang maha suci dan maha tinggi adalah Tuhan semesta alam yang menciptkan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, dan semuanya tidak luput dari kekuasaan dan kehendaknya, betapa alam semesta ini tidak akan berdaya apabila Alloh tidak mengaturnya. Dan apabila Alloh berkendak untuk menciptakan sesuatu kita tidak bisa berbuat apa-apa dan apabila Alloh hendak akan mengakhiri sesuatu maka kita tidak berdaya melawannya, Semua apa yang diciptakan Alloh tidaklah kekal. Alloh adalah yang maha berkehendak atas segala urusan yang ada di alam semesta, dan apabila Alloh berkehendak sesuatu maka Alloh hanya cukup berkata “Jadilah”, maka jadilah sesuatu tersebut, seperti dalam QS. Al-Baqoroh : 117 yang berbunyi :
“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, Maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" lalu jadilah ia.”(QS. Al-Baqoroh : 117)
Jelas bahwa Alloh adalah Kholiq yang maha berkehendak atas segala sesuatu dan tidak ada kholiq selain Alloh. Allohlah yang menciptakan buah-buahan dan hewan ternak untuk kita makan. Coba bayangkan kalaulah Alloh tidak menciptakan itu semua untuk manusia, bisa apa manusia? Bagaimana manusia bisa hidup? Selaku makhluk apa yang harus manusia lakukan kepada sang Kholiq yang telah menciiptakan? Pernahkah kita mendengar kata “Akhlaq” apa itu akhlaq? Akhlaq adalah sikap atau perilaku yang diperbuat Makhluk kepada sang Kholiq, Akhlaq bukanlah perilaku antar Makhluk. Bersyukur atas segala nikmat yang diturunkan oleh sang kholiq kepada Makhluk adalah Akhlaq yang benar yang harus dilakukan oleh manusia, Betapa buruknya akhlaq seorang makhluk kepada Alloh apabila ia tidak mau bersyukur kepada Alloh Kholiq alam semesta ini karena begitu banyak nikmat yang telah diberikannya seperti dalam surat Ar-Rohman manusia di ingatkan untuk bersyukur kepada Alloh bahkan sampai 31 kali Alloh mengulangnya “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Lalu bagaimanakah cara kita bersyukur kepada Alloh sebagai bentuk Akhlaq yang benar kepada sang Kholiq? Untuk bersyukur kepada Alloh maka yang harus kita lakukan adalah menyembah Alloh dan tidak mempersekutukannya dengan apapun, mau melakukan apa yang diperintahkannya dan mau menjauhi apa yang di larangannya, seperti dalam QS. An-nisa : 46 :

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.”(QS. 4:36)
Maka sudah sepatutnya kita selaku makhluk hanya menyembah Alloh saja, karena dengan itulah kita bisa bersyukur atas segala nikmat yang diberikan olehnya, dan apabila kita mempersekutukan Alloh dengan Tuhan (Ilah) yang lain maka sungguh itu adalah Akhlaq yang buruk, karena itu membuktikan bahwa kita tidak bersyukur atas segala nikmat yang telah Alloh berikan kepada kita.
Maka sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Alloh kita haruslah menyembah dan beribadah kepada Alloh saja, dan mau menjalankan apa yang Alloh perintahkan dan menjauhi apa yang Alloh larang, serta meniadakan Ilah-ilah selain Alloh dalam hidup kita, yang berhak mengatur kita, yang harus kita taati dan yang harus kita sembah.
Demikian pembahasan ini semoga bermanfaat, tulisan selanjutnya saya akan membahas ilah-ilah selain Alloh. Mohon maaf apabila ada kesalahan, karena sesungguhnya yang benar itu hanya datang dari petunjuk Alloh dan yang salah itu datang dari kesalahan pribadi penulis.
semoga bermanfaat dan menjadi wawasan
Wassalamulaikum wr.wb

Dikirim pada 15 Mei 2014 di Hikmah
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Aku hanyalah orang biasa,. sederhana dan apa adanya,. More About me

Page



    Flag Counter
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 3.347.367 kali


connect with ABATASA